Sabtu, 30 Juli 2016

Karena Setiap Perjalanan Punya Cerita "Pendakian Gunung Prau - Dieng" Part-3

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh...
Sambungan dari sebelumnya "Karena Setiap Perjalanan Punya Cerita "Telaga Warna - - Dieng" Part-2"

13-14 Mei 2016
Siang Dieng...

Saya menulis perjalanan ini sebagai kenang - kenangan dimasa yang akan datang, dimana bisa menjadi cerita untuk anak cucu "tsssaaahhh" seperti lagu dari Sheila on 7 "Sebuah Kisah Klasik". Jam menunjukkan pukul 10.30, ada whatsapp masuk bahwa Mas Bram dan Kak Griska telah tiba di Dieng. Saya pun keluar rumah ditemani Arief dan Mas Agung untuk menjemput dan mengajak beristirahat di kediaman Eko. Alhamdulillah akhirnya sampai juga kloter 3 dan personil pendakian Prau ala "Anak Kompleks" sudah komplit (dah kek paket makanan ya hehehe...). Oh yaa pendakian Gunung Prau ini perdana untuk "Kak Jane dan Mas Bram". 




Jumat, 29 Juli 2016

Tradisi Nyongkolan Lombok Sebagai Ajang Silahtuhrahmi

 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh...

15 November 2015

Sore Lombok....

Mendengar Lombok sebagian orang langsung tertuju pada Rinjani, Suku Sasak, Mutiara dan pantai - pantai indah lainnya. Kalau saya pribadi masih ingat dengan kajian mata Kuliah Hukum Adat yang saya ambill beberapa tahun lalu, mengkaji tentang tradisi "Kawin Lari" Suku Sasak.

Lombok adalah sebuah pulau kecil yang memiliki letak geografis berada di tengah - tengah dalam jajaran Kepulauan Indonesia, masuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat menjadi satu bagian dengan Pulau Sumbawa.

Secara garis besar kebudayaan Lombok mirip dengan tradisi budaya Jawa dan Bali.  Dari berbagai sumber sejarah yang saya baca dan peninggalan - peninggalannya pun banyak ditemui bernuansa Hindu Bali seperti Taman Narmada, Pura Niru, Taman Lingsar, Taman Suranadi dan lain - lainnya. Hingga kini pun tempat tersebut masih dipergunakan sebagai rumah ibadah oleh umat Hindu.

Suku yang mendiami Pulau Lombok itu sendiri adalah Suku Sasak. Sebagai suku yang memiliki budaya dan tradisi sehari - hari, seperti layaknya suku - suku di Indonesia lainnya, yaitu menjunjung tinggi nilai kultural budaya mereka.

Salah satunya tradisi "Nyongkolan" yang saya temui ketika baru saja tiba di Lombok menuju Sengigi. Nyongkolan berasal dari kata Songkol atau Sondol yang berarti mendorong dari belakang atau bisa diartikan menggiring. Nyongkolan adalah prosesi adat yang dijalankan, apabila adanya proses pernikahan Laki - laki (Turune) dan Perempuan (Dedare) di dalam Suku Sasak. Biasanya Nyongkolan akan dilakukan setelah proses Akad Nikah atau ditentukan oleh kedua belah pihak.

Setelah hari H tiba, pengantin laki - laki dan permpuan akan diiringi atau diarak layaknya Raja dan Permaisuri menuju kediaman keluarga pihak pengantin perempuan, pengiring ini akan mengenakan pakaian adat Suku Sasak layaknya prajurit dan dayang - dayang untuk mengantarkan Raja dan Permaisurinya sambil diiringi musik.

Iring - iringan Nyongkolan
Keramaian Nyongkolan
Dayang - Dayang Pengantin Perempuan
Iring - Iringan Pengantin Laki - Laki
Pengantin Perempuan
Iring - Iringan Nyongkolan
Alat musik dalam iring - iringan Nyongkolan
Ramai bukan Tradisi nyongkolan ini
Sesampainya di kediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin ini akan melakukan sungkeman untuk meminta restu kepada pihak keluarga sebagai tanda bahwa pihak keluarganya sudah merestui untuk melepas anak gadis mereka dan dibawa oleh suaminya. Demikian sedikit tentang tradisi nyongkolan, semoga bermanfaat. Terima kasih.


وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ....



Wayang Serangga Festival Lima Gunung Sebagai Keseimbangan Alam

 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh...
23 - 24 Agustus 2014


Awal mengetahui Festival Lima Gunung (FLG) ke XIII ini dari rekanku di Solo melalui kontak inbox facebook, sengaja aku bertanya kabar dan apakah akan hunting lagi di Festival Dieng yang memang jatuh pada akhir bulan Agustus 2014???. Rekanku ini seorang photografer sebuah media terkenal di tanah air, namanya Maul, memberitahuku bahwa 23 – 24 Agustus 2014 ini akan ada Festival Lima Gunung ke XIII di Dusun Warangan Desa Muneng Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang Jawa Tengah. 

Selamat Datang di Dusun Warangan
Topeng - Topeng Karya Pak Sujono
Acara ini dimeriahkan oleh gabungan seniman petani dan Komunitas Lima Gunung wilayah Kabupaten Magelang, serta kolaborasi dengan seniman dari berbagai daerah meliputi Jogjakarta, Kendal, Kediri, Magelang dan Solo.  

Kirab Keliling Dusun Ketika Pembukaan Acara FLG ke XIII
Ketua Adat
Buah Sesaji
Bubur Sesaji
Festival Lima Gunung ini diprakarsai oleh Paguyuban warga yang mendiami dusun wilayah Gunung Andong, Merbabu, Merapi, Sumbing dan Perbukitan Manoreh, yang sebagian besar menyambung hidup dengan bertani sambil berkesenian di dusunnya masing - masing. Baik ornamen maupun umbul - umbul  FLG yang semua terbuat dari alam seperti daun pisang kering - berjejer rapi berupa bendera, janur, dedaunan dan jerami. Demikian kreatif para seniman yang ambil bagian dalam festival ini.

Ornamen Jerami yang menghiasi Panggung
Festival Lima Gunung di Dusun Warangan
Sesaji
Hiasan Panggung
Ada yang mengusik hati saya, ketika melihat festival ini yaitu keberadaan Wayang Gunung atau Serangga karya Pak Sujono. Beliau merupakan seniman yang mempimpin Komunitas Sanggar Saujana. Sanggar yang dibangun sebagai tempat ekspresi jiwa seninya yang diwujudkan dalam bentuk wayang. Bahan untuk membuat wayang Pak Sujono mempergunakan Kulit maupun Fiber. Hasil karya seni beliau yang berkarakter membuat banyak pengunjung tertarik untuk membelinya, bahkan hasil karyanya sudah sampai keluar negeri. Ada 2 (dua) jenis wayang yang dibuat oleh Pak Sujono antara lain :

1. Wayang Saujana (Insect Puppet) adalah wujud wayang dengan rupa macam - macam serangga.
2. Wayang Air (Water Puppet) adalah wujud wayang dengan rupa macam - macam ikan.

Selain itu Pak Sujono juga ahli dalam membuat patung dari bahan batu dan kayu, tak sebatas itu beliau juga pandai melukis dan menciptakan tarian berkostum serangga yang sangat unik.


Karakter Wayang Serangga
Karakter Wayang Serangga 2
Karakter Wayang Serangga 3
Wayang Serangga 4
Gunungan
Lihatlah pameran karya seni Pak Sujono di festival ini. Beliau membuat wayang dari berbagai macam karakter dalam bentuk serangga seperti capung, kupu - kupu, jangkrik dan gangsir. Ada juga karakter Dewi Sri sebagai dewi kesuburan. Dalam karakter Dewi Sri digambarkan bertubuh kinjeng atau capung.



Topeng
Patung Temanten
Ruang Pameran Festival Lima Gunung


Menurut Pak Sujono, kenapa beliau memilih tema serangga karena berkaitan dengan kehidupan sehari - hari para petani, dan species ini penting bagi keseimbangan alam. Dalam hal ini karakter kinjeng atau capung menurut Pak Sujono mewakili keprihatinnya terhadap kerusakan alam, termasuk pengunaan pestisida yang berlebihan. Akibatnya, tanah menjadi tidak subur dan hasil pertanian terkena berbagai macam pupuk kimia. Demikian sedikit perbincangan dengan Pak Sujono, dilain waktu saya akan berkunjung melihat langsung pembuatan wayang serangga ini di Sanggar Saujana yang berada di Dusun Keron Krogowanan Sawangan Magelang Jawa Tengah. 

Penari Reog
Seto Kencono
Soreng Putri
Ini Lupa Tarian Apa???
Sangkralnya, Peresmian Acara FLG ke XIII
Hiasan Kaki Penari
Wayang Serangga, Ikut Kirab Keliling Dusun...
Ke esokan harinya diadaan kirab keliling yang kemudian berakhir di arena festival. Acara ini juga dihadiri oleh Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Lailly Prihatiningtyas, Koordinator Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) Umar Chusaeni dan Sutradara Garin Nugroho. Pagelaran acara selama dua hari ini arena panggung festival dipadati penonton, baik warga desa - desa sekitar maupun mereka yang datang dari berbagai kota, termasuk pengunjung dari luar negeri. Pengunjung festival di sambut ramah oleh warga Dusun Warangan, mereka juga menyiapkan rumah - rumah untuk menginap dan makanan yang sederhana untuk para tamu festival.

Mbak Laily dengan Para Pengunjung FLG
Sutradara Garin Nugroho
Pak Sujono Nomor Dua dari Kanan
Pak Umar Chusaeni

Banyak hal yang bisa di petik dari acara festival ini, sesuai tema “sanak kadang” sebagai ajang silahtuhrahmi sesama manusia untuk kekuatan  bangsa serta hubungan manusia dengan letusan gunung sebagai siklus kehidupan. Semoga tulisan ini bermanfaat, terima kasih.

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...

Minggu, 24 Juli 2016

Karena Setiap Perjalanan Punya Cerita "Telaga Warna Dieng" Part-2


 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh...
13 Mei 2016 

Pagi Dieng...

Azan subuh membangunkan saya dari tidur, terbangun dan mengambil air wudhu, biasalah Dieng sudah pastilah airnya dingin, tapi saya tetap melakukan ritual itu. Mas Bram, Mas Agung dan Bagus pun sudah terbangun untuk melaksanakan Sholat Subuh.


Vlog by  Mas Agung Hari Wijaya

Setelah Sholat subuh, saya lalu bergegas membuatkan minuman hangat untuk rekan-rekan. Sambil menikmati minuman hangat dan berbincang hendak kemana pagi ini. Akhirnya diputuskan menuju Kompleks Candi Arjuna dan Telaga Warna. Saya, Mas Agung, Mas Bram, Bagus, Arief dan Pakde keluar rumah sambil menikmati udara pagi Dieng yang sejuk dan dingin. Sebelum menuju Kompleks Candi Arjuna saya dan rekan-rekan hendak menjemput Kak Jane dan Mas Danu terlebih dahulu, namun ternyata pintu gerbang Penginapan Lestarie masih terkunci, yaa sudah kita langsung saja. 


Depan Kompleks Candi Arjuna
Welcome Dieng "Nampak seperti Cover Majalah"
Menuju Candi Arjuna saya dan rekan-rekan lain juga sempat berfoto-foto, melihat perkebunan kentang dan buah carica. Begitu tiba di pintu masuk Kompleks Candi Arjuna ternyata kita hanya berfoto saja, lalu kembali menuju penginapan Kak Jane dan Mas Danu. Disana saya sempat bertemu Pak Yanto dan Ibu, lalu kita mampir dahulu untuk bersilahtuhrahmi. 

Setelah dari  Penginapan Lestarie team "Anak Kompleks" yang sudah 8 personil, masih menunggu Kak Griska dan Mas Bram yang otw menuju Dieng. Kita pun sarapan dahulu di warung Bu Jono dengan menu yang sama mie instan rebus sayuran dan susu hangat, maklum masih pagi jadi hanya menu itu yang tersedia. Tetapi menurutku cocoklah dengan cuaca Dieng.
Warung Bu Jono yang Legendaris itu
Setelah sarapan kita pun berjalan-jalan pagi menuju Telaga Warna, tapi ternyata Mas Agung dan Arief kembali menuju rumah Eko untuk mengambil hammock. Saya, Mas Bram, Kak Jane, Mas Danu, Bagus dan Pakde tetap menuju Telaga Warna diselingi canda tawa hingga di pos restribusi. 

Begitu sampai di pos saya berjumpa dengan Pak "ASEP GUIDE" dan bertanya hendak ke Telaga Warna tidak ke tempat lain, apakah tiket disini sudah termasuk??? beliau Jawab iya sudah termasuk maka saya bayarlah Rp. 40.000,- untuk 6 orang. Begitu tiket sampai di tangan hanya ada 4 tiket, lalu saya tanyakan kembali kenapa cuma 4??? yang 2 lagi mana??? beliau lalu mengambil tiket saya dan ditulis dengan pulpen menjadi berlaku untuk 6 orang, menurut beliau jika saya ingin 2 tiket lagi harus membayar Rp. 15.000,- lagi,  hadeeh sudah ketebak gelagat orang ini. "lalu saya menyampaikan ke Pak Asep, oh jadi tiket yang 2 orang masuk kantong Bapak??? beliau lalu marah dan "mengandakan saya", malas berdebat akhirnya saya mengajak rekan-rekan langsung menuju Telaga Warna.

Benar saja begitu tiba dipintu masuk Telaga Warna, tiket yang saya beli bersama rekan-rekan tidak terpakai, karena beda pengelolaan. Menurut petugas Telaga Warna, disini beda pengelola hingga akhirnya kita membeli kembali Rp. 40.000,- untuk 8 orang. Saya sempat kesal karena ini tidak transparan dan tentu merugikan wisatawan yang datang.

Untuk sahabat pejalan, jika ke Dieng coba tanyakan lagi dengan jelas tujuan dan mengenai pembayaran tiket masuk wisata, agar tidak merasa tertipu seperti saya. Saya pribadi tidak masalah dengan uang untuk membayar tiket masuk wisata, tetapi lebih ke cara orang tersebut yang tentu sangat merugikan wisatawan. Karena Dieng merupakan rumah kedua bagi saya.


Kembali dari curahan hati "ceeeileeh", mari kita jalan-jalan di Telaga Warna. Telaga Warna merupakan salah satu wisata yang berada di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dan merupakan wisata andalan wilayah ini. Telaga ini juga mempunyai keunikan tersendiri yaitu berwarna hijau kekuningan atau bisa seperti pelangi. Hal ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang sangat tinggi, sehingga jika terpapar sinar matahari air telaga akan berwarna - warni. 


Pengelolaan "Telaga Warna"
Keindahan Telaga Warna
Keindahan Telaga Warna Nan Ciamik
Petapa Telaga Warna
"Jangan meceburkan diri ya Mas Bram hehehe ...:D"
Telaga yang berada di ketinggian lebih kurang 2000 mdpl dikelilingi perbukitan dan pepohonan nan menawan. Keindahan telaga ini akan terasa lebih indah jika dilihat dari ketinggian, waktu yang tepat berkunjung ke telaga ini adalah pagi hari menjelang siang. Jika sore hari tentunya berkabut dan nampak mistis menurut saya. Keberadaan telaga ini juga berfungsi sebagai irigasi bagi pertanian kentang yang merupakan komoditi utama Dieng dan tempat pelarungan rambut gimbal setelah prosesi adat, baik pada acara "Dieng Culture Festival" maupun diluar acara tersebut. Acara Dieng Culture Festival ke VII ini berlangsung 5 - 7 Agustus 2016. 


"Yang cocok captionnya apa coba???"
Ciamik Telaga Warna Saat Pagi
Pagiii, Ndoro Putri ...:)
Narsis Keluarga Bahagia "Anak kompleks 1"
Nasris Keluarga Bahagia "Anak Kompleks 2"
Narsis Keluarga Bahagia "Anak kompleks 3"
Narsis Keluarga Bahagia "Anak Kompleks 4"
Setelah berkeliling telaga dan berfoto-foto, kita lalu melanjutkan pulang menuju rumah Eko untuk bersiap - siap pendakian Gunung Prau, selepas Sholat Jum'at. Sementara saya mengecek kembali kelengkapan logistik dan memasak, untuk makan siang saya dan rekan -rekan sebelum berangkat pendakian. Perjalanan "Anak kompleks" masih berlanjut loh, jangan lupa baca terusannya yaaa, pastinya seruuuu bersama orang - orang tercinta "sambil senyum-senyum....:):)".

Bersambung ke  "Karena Setiap Perjalanan Punya Cerita "Pendakian Gunung Prau - Dieng" Part-3"

 وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ...










Kumpul Bareng Menikmati Hostel SubWow di Bandung

Perjalananku selalu mempertemukan dengan orang – orang hebat yang sehati dan sefrekuensi, biasa aku penyebutnya begitu. Weekend kali ini t...