Sabtu, 29 Agustus 2015

Ruteng Sebuah Kota Eksotisme yang Dingin


Udara dingin akan menyambutmu jika berkunjung kota ini Ruteng, sebagai ibu kota Kabupaten Manggarai, berada di bagian barat Pulau Flores Nusa Tenggara Timur merupakan kota menyenangkan untuk dikunjungi. Terletak sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, berudara sejuk dan dikelilingi persawahan hijau yang menyediakan berbagai bahan pokok bagi penduduk dan banyak sekali tanaman kopi disini. Kota ini masih mempertahankan keseimbangan antara kuno dan modern.
Terlihat dari bangunan-bangunan yang berada disini, seperti Gereja Katedral yang berstruktur bangunan tua peninggalan arsitektur Eropa. Memang tak heran jika bangsa yang pernah menjajah kita mempunyai pengaruh misionaris yang besar di tanah Flores.



Di Ruteng ini aku menginap di Kesusteran Maria Berduka Cita, sebuah penginapan bernuansa Eropa yang dahulunya sebuah sekolah biara yang sekarang sudah tidak  dipergunakan lagi.  Pagi harinya aku sempatkan jalan di sekitar alun – alun kota untuk  melihat Gereja, Kantor Bupati Manggarai yang megah, Masjid dan ke supermarket dekat ATM BNI. Tak jauh dari sana aku beli kue khas Ruteng namanya compiang kuenya berupa roti kecil ada wijen diatasnya.
Setelah puas jalan-jalan, akhirnya aku memutuskan untuk menyewa ojek Rp. 50.000,- Pak Daud sampai sore untuk berkeliling Ruteng, salah satunya mengantarku ke Desa Compang Ruteng yang berada di Ruteng Pu’u  Kecamatan Golo Dukal Kabupaten  Manggarai  Flores Nusa Tenggara Timur yang  berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat kota. Aku menemukan sebuah desa adat, yang satu-satunya berada di Ruteng. 
Compang Ruteng adalah sebuah desa adat tradisional. Ketika baru saja tiba ada seorang Bapak menyambutku “Selamat datang di Compang Ruteng,” dan aku dipersilakan masuk ke dalam rumah gendang  rumah adat yang terbuat dari kayu dan beratap alang-alang, tipikal rumah adat di Flores. Di dalamnya bisa melihat struktur bangunan, interior kayu, dan peralatan lain seperti alat penumbuk kopi, drum, gong, dan perisai  yang dipergunakan untuk tarian tradisional. Saat aku tiba sepi sekali disini bertanya ke Pak Petrus, beliau menyampaikan warga sedang pergi ke ladang. Dan kenapa desa ini diberi nama Compang, beliau mengatakan karena di tengah rumah adat ini terdapat altar yang letaknya lebih tinggi dari rumah gendang yang terbuat dari batu untuk upacara adat, seperti penti sebagai upacara rasa bersyukur kepada Tuhan karena sudah diberi panen dan air melimpah. Biaya masuk ke desa adat ini Rp. 10.000,-/orang.



Selepas berbincang dengan beliau aku meminta izin untuk kembali ke kota. Aku ada janji dengan Sefnita rekanku yang kebetulan sedang kembali ke Ruteng dari Ende. Kami  janji bertemu di dekat Gereja Katedral baru di sebuah warung bakso milik orang Wonogiri (setelah aku ngobrol dengan pemiliknya). Karena rekanku ini akan  beribadah menjelang Paskah, sambil menunggu aku lihat tampak banyak remaja-remaja muslim sedang berjaga, karena penasaran aku datangi dan bertanya sedang apa mereka. Ternyata mereka sedang berjaga karena umat  Khatolik  disini sedang beribadah menyambut Jum’at Agung atau Paskah esok hari. Di kota ini aku  belajar tentang bagaimana cara menghormati agama lain, merasakan bagaimana menjadi minoritas. Tampak terlihat sekali kerukunan dan rasa toleransi antar umat beragama di Ruteng.
Jika berkunjung ke Ruteng masih terdapat tempat wisata lain seperti, Gua Liang Bua sebuah situs lain arkeologi di mana hobbit diyakini telah pernah menjelajahi wilayah ini. Para ilmuwan menyebut spesies kerdil yang baru menemukan  Homo Floresiensis. Ketika masuk ke dalam gua akan menghubungkan zaman modern ke awal peradaban manusia. Perjalanan dari kota Ruteng menuju Gua Liang Bua bisa menggunakan angkutan umum ataupun kendaraan pribadi. Jarak dari kota Ruteng ke Dusun Rampasasa tempat dimana Gua Liang Bua berada sekitar tiga belas kilometer dan dapat di tempuh sekitar satu jam perjalanan.




Dalam perjalanan pulang dari Gua Liang Bua, aku sempatkan mampir ke sebuah desa bernama Cara di Cancar untuk melihat sawah lingko dalam bahasa adat Manggarai atau sawah jaring laba-laba (spider wed rice), menyajikan pemandangan yang sangat luar biasa dari atas bukit dengan trekking sekitar lima belas menit, setelah memarkirkan motor dan mengisi buku tamu.

Kota berhawa sejuk di kaki Gunung Ranaka ini sangat menyenangkan buatku, selain sebagai kota transit untuk ke Desa Wae rebo, Labuan Bajo dan Bajawa, disini banyak menyuguhkan keindahan alam dan warga masyarakatnya yang sangat ramah terhadap para pendatang. Setelah puas berkeliling, kini tiba saatnya untuk beranjak kembali ke penginapan, dan bersiap menuju Bajawa. Tersimpan rasa bahagia dalam perjalanan ini, destinasi bukan merupakan tujuan utama dalam perjalananku namun proses menuju tempat itulah yang sangat berarti, banyak hal yang bisa dipetik dan tak ternilai harganya. Terima kasih Semesta untuk perjalanan ini….:)

Tips Menuju Ruteng :

1. Penerbangan Denpasar – Ruteng (Selasa, Jum’at)  dengan Transnusa harga sekitar Rp. 750.000,- /orang di  Bandara Ngurah Rai, Denpasar - Bali Telp : +62 361 760 218
Kupang  - Ruteng (setiap hari) harga sekitar Rp. 850.000,- /orang
Di Bandara El Tari Kupang Telp : +62 380 822 555 website            www.trannusa.co.id

2.   Travel Labuan Bajo – Ruteng aku rekomendasikan Gunung Mas :
Labuan Bajo    :  Jalan Dr. Soetomo (depan SMAK Layola)  Telp +62 852 3932 2000
Ruteng             : Jalan Adi Sucipto no. 5F (depan kantor PLN) Telp +62 813 3938 0830
Ende                : Jalan Kelimutu (depan Telkom) Telp +62 852 3933 9933
Maumere        : Jalan Moa Toda (Hotel Benggoan I) Telp. +62 382 21283

3.   Hotel Kesusteran Maria Berduka Cita Jalan Ahmad Yani No. 45 Ruteng  +62 385 22834  atau  +62 813 9376 3129 Rp. 190.000,-/ malam double bed dan mendapat sarapan (jadi kalo trip berdua bisa di sharing)

4. Terminal Mena Ruteng terdapat beberapa rute angkutan baik ke Dintor (jika menuju Wae rebo), Narang, Rampasasa dan Cancar (untuk tarif sebelum naik dianjurkan ditanyakan dahulu ke supir), untuk jasa ojek harga bisa di negoisasi sesuai dengan tujuan

5.  Rumah Makan Padang Padedoang Jalan Adi Sucipto No. 3 Ruteng, ada supermarket dekat ATM BNI jika ingin membeli kebutuhan seperti air mineral, roti dllnya





Jumat, 28 Agustus 2015

Pulau Riung Nan Cantik di Flores



Membicarakan Indonesia tidak akan pernah habis, seperti halnya ketika aku berkunjung ke Riung. Tempat ini aku kunjungi setelah dari Bajawa, aku naik otocolt (angkot) dari depan rumah seorang teman menuju Riung dengan tarif Rp. 25.000,-/orang kurang lebih tiga jam. Sepanjang perjalanan terlihat bukit-bukit yang luar biasa menurutku. Setelah satu setengah jam perjalanan tibalah di Mbay untuk  menurunkan penumpang, karena duduk didepan aku bertanya ke supir apakah masih lama istirahatnya, beliau menjawab masih. Lalu aku turun untuk membeli makanan di pasar, rupanya Mbay lagi panen buah nona (serikaya) dalam bahasa Flores. Aku membelinya Rp. 5.000,-  dapat satu kantong lumayan buat bekal hehe…:D


Setelah penumpang naik semua perjalanan dilanjutkan menuju Riung, karena pas aku kesana lagi musim kering jadi tampak bukit dan rerumputan berwarna coklat, seperti sabana. Supir Oto bertanya aku mau turun dimana? Aku jawab di Nirvana Bungalow, oh milik Pak Rustam…J setelah tiba aku disambut oleh Kak Rustam yang sudah aku anggap kayak kakak sendiri seperti halnya dengan kak Tuteh, beliau begitu ramah. Pas aku tiba diterasnya tampak banyak bule-bule yang sedang berbincang dengannya, memang bungalow miliknya ini banyak untuk stay para wisatawan asing yang bisa menginap berhari-hari disini.


Bungalow ini terdiri dari tujuh kamar terdiri dari satu kamar triple dan enam kamar double. Tarifnya pun lumayan murah Rp. 150.000, - Rp. 200.000,- / kamar dengan breakfast berupa roti, selai, kopi atau teh manis. Aku kebetulan dapat kamar yang paling pojok, penginapan ini unik terbuat dari bambu, tempat tidur berkelambu,  kamar mandi yang outdoor jadi kalau malam saat mandi  bisa sambil lihat bintang hehehe…:D  dan halaman yang luas bisa lari-larian ala India #tsaaah. Pemilik bungalow ini adalah Kak Rustam, pria berambut gimbal,  penyuka musik reggae. 

Untuk sewa boat untuk berkeliling sekitar Rp. 250.000, - Rp. 350.000,-/ kapal tergantung berapa pulau yang mau dikunjungi. Lokasi penginapan ini juga dekat dengan dermaga untuk berkeliling pulau bila berjalan akan melihat banyak pohon kelapa seperti berbaris menuju dermaga dan tarif tiket masuk Rp. 1.500,-/orang.

Pulau Kelelawar
Pulau Rutong
Pulau Rutong

Pulau Rutong
 
Nirvana Bungalow
Riung merupakan salah satu destinasi penting di Pulau Flores, pulau ini tertera dipeta ada tujuh belas pulau tapi aslinya ada dua puluh satu pulau lho… Pulau pertama yang aku kunjungi adalah Pulau Kelelawar terdapat ribuan kelelawar dan hutan bakau disini, Pulau Ontoloe (pulau terbesar), Pulau Tembang, Pulau Tembaga, Pulau Tiga aku sempet mampir untuk snorkeling  dan membersihkan pantai, karena terdapat banyak sekali sampah plastik dan botol bekas minuman dan terakhir mampir di Pulau Rutong untuk bersantai, berenang, berjemur (kek bule), bakar ikan dan minumnya kelapa muda yang sudah aku pesan sebelumnya.

Di kawasan daratan Riung di dominasi oleh hutan bakau yang masih terdapat biawak, elang, ayam hutan, burung nuri, burung bangau dan lain-lainya. Pantai-pantai di pulau ini juga didominasi dengan pasir putih, air laut yang biru bersih bawah laut yang indah dan pemandangan yang luar biasa kenikmatannya yang bisa dirasakan oleh mata. Oh ya untuk di Pulau Riung ini kita bisa melakukan snorkeling atau diving untuk rekan-rekan pejalan dan  bisa menghubungi Kak Rustam.

Setelah puas berkeliling pulau, besoknya aku sempatkan untuk berjalan-jalan sekitaran dermaga dan ke atas bukit, masyarakat disini di dominasi oleh suku Bugis Sinjai dan beragama Islam, mata pencarian disini mayoritas sebagai nelayan. Aku sempet berbincang dengan nelayan yang sedang membuat ikan asin di sebelah barat dermaga. Lalu berlanjut naik ke perbukitan sabana  banyak sapi-sapi liar yang dibiarkan makan  dan sesekali di cek oleh pemiliknya.

Sekembalinya berkeliling aku duduk santai di teras rumah Kak Rustam dan berbincang bagaimana Riung ke depannya #tsaaaah, karena disini punya potensi wisata yang menarik namun masih minim fasilitas penunjang.  Untuk  pasokan listrik disini bahkan masih disupply oleh generator yang beroperasi selama dua belas jam yakni pukul enam sore hingga enam pagi.

Untuk para pejalan mencapai Riung ini bisa via Bajawa atau Ende, dengan bus gemini, damri atau travel, walaupun menuju kesini jalannya sempit, berliku, rusak dan melewati jurang. Namun semua itu akan terbayarkan dengan keindahan Riung yang luar biasa. Jika rekan pejalan ingin berkunjung kesini bisa menghubungi kak Rustam. Makasih Kak Tam sudah anggap aku kek keluarga dan  sudah diberikan izin obrak-abrik isi kulkasnya untuk makan malam hehe….next time aku kunjung lagi ke Riung dengan suasana berbeda tentunya.


Tips Menuju Riung :
- Bisa mengunakan jasa otocolt dari Bajawa – Riung tarif Rp. 20.000,-/orang atau dari Ende – Riung tarif Rp. 25.000,-/orang bisa juga dengan travel atau bus damri
Penginapan Nirvana Bungalow dengan tarif Rp. 150.000,- sampai Rp. 200.000,-/malam untuk dua orang plus sarapan roti, selai, kopi atau teh. Untuk penginapan dan sewa kapal, alat snorkeling bisa menghubungi Kak Tam di twitter @nirvanariung atau facebook Oetamtam Effendy (harga yang tertera tahun 2013)

Kumpul Bareng Menikmati Hostel SubWow di Bandung

Perjalananku selalu mempertemukan dengan orang – orang hebat yang sehati dan sefrekuensi, biasa aku penyebutnya begitu. Weekend kali ini t...