Sabtu, 20 Juli 2019

Nginap Asik Bersama Kawan di Meothel Purwokerto


Selepas acara Juguran Blogger 2019, peserta yang tersisa aku, Ibuk Terry, Bang Juan, Bang Doel, Zain dan Aris menginap di Meothel Purwokerto yang menurutku design interiornya instagramable sesuai dengan gaya anak muda kekinian.


Kamar dengan tempat tidur twin share

Di Meothel manapun pasti ada gulingnya

Mulai dari lobbynya yang nyaman, welcome drinknya yang menyegarkan dan area permainan masa kecil ada  disini.  Tak berapa lama ketika kami tiba dan disambut dengan hangat oleh receptionist kemudian diberi kunci kamar di lantai 5, saya mendapat kamar twin share dengan Ibuk Terry dengan fasilitas  no smooking.


Westafel

Kamar Mandi dengan Shower

Toilet Duduk

Aku menempati smart room, dengan tempat tidur twin plus bantal dan guling, TV besar LED, meja dan kursi lengkap dengan gelas, pemanas air dan air mineral, serta kamar mandi dengan kaca transparan. Kamar yang nyaman membuat aku pun terlelap setelah malam harinya berkeliling kota Purwokerto berjumpa dengan kawan.


Fasilitas TV LED

Fasilitas Minuman dan Perlengkapannya

Lampu di atas meja kerja

Pagi harinya sebelum breakfast aku sempatkan main ke kolam renang dan berjalan-jalan disekitar hotel. Untuk sarapan terdapat berbagai macam varian, ada omlet, soto, salad, buah-buahan, serta minuman tradisional seperti jamu.

Sebelum check out aku berkeliling hotel untuk menikmati fasilitas hotelnya, mencoba permainan anak di lobby bersama cece Lenny, mengingatkan masa kanak-kanak dulu. Untuk area parkirpun sangat luas dengan pelayanan 24 jam dan tersedia tempat gym..

Setelah puas berkeliling hotel, aku melanjutkan ke kamar lagi untuk packing dan mandi. Karena siang ini aku akan melanjutkan perjalanan menuju Cilacap.

Terima kasih Meothel Purwokerto untuk hunian nyamannya. Insya Allah nanti aku kembali lagi dan mampir.

Meothel Purwokerto by DAFAM
Jl. Dr. Soeparno Selatan No.1 Purwokerto
(Timur GOR Satria)Email : info@meotelpurwokerto.comPhone : 0281 777 1157 Web : www.meothelisme.comIG : @meotelpurwokerto








Rabu, 17 Juli 2019

SENINYA MAKAN ALA KOREA DI BULDAQ BBQ PURWOKERTO


Lepas check out dari JAHE, aku bersama beberapa kawan mengunjungi sebuah restaurant Korea untuk makan siang, namanya Buldaq BBQ. Restaurant ini terletak di Rita Supermall 1F Jl. Jenderal Sudirman, Sokanegara, Purwokerto Timur tepat di depan Alun-alun Kota Purwokerto dengan pemandangan Gunung Slamet didepannya, indah bukan.

Menu Lengkap di Meja

Aku memilih kursi sofa yang tidak terkena panas sinar matahari, karena saat itu Purwokerto lagi terik. Kami mulai memesan satu persatu untuk minuman berupa ocha, teh hangat dan alpukat smoothies. Lalu memesan Woosamgyeob sebagai menu pertama. Sambil menunggu pesanan makan datang, minuman datang terlebih dahulu.






Woosamgyeob ini berupa daging disajikan dalam piring tersusun dengan rapi, dan cara memasaknya harus di grill dahulu kemudian dicocolkan kedalam saus, bisa pilih manis atau pedas. Setelah daging matang cara memakannya, dengan mengambil daun selada lalu taruh daging yang sudah matang kedalamnya, tambahkan bawah, dilipat, lalu masukan kedalam mulut, hmmmm rasanya sedap betul. Aku sempat berbincang ke Dita.




Ika                          : “Dit, ini enak banget deh dagingnya?”, kali ini aku memberanikan diri makan daging karena sudah membawa obat anti alergi.
Dita                             : “Iya, enak”,





Menu Woosamqyeob belum juga usai, sudah datang menu selanjutnya Budae Jjigae yang merupaka Sup Merah Korea dengan bahan dasar daging kalengan.

Sejarah dari Budae JJigae pun unik, sup ini merupakan makanan pangkalan militer. Bermula dari Perang Korea, kala itu banyak warga kekurangan bahan makanan. Akhirnya warga memanfaatkan kelebihan makanan kaleng dari para tentara Pangkalan Militer Amerika Serikat. Mereka mengkonsumsi bahan –bahan makanan tersebut dengan kuah masakan Korea berbumbu gochujang yang pedas, lalu dimasak mengunakan panci besar.




Lama kelaman makanan sederhana ini jadi popular di Korea Selatan hingga sekarang, dan banyak menu Budae JJigae tersaji di resto-resto Korea. Budae JJigae disajikan bersama sayuran, sosis, jamur, kimchi, mie instan, telur dll. Aku secara pribadi sangat suka menu-menu di Buldaq BBQ Purwokerto ini. Sup Budae JJigae ini sangat cocok dikonsumsi di Purwokerto, mengingat udara kota ini dingin. 

Kisaran harga :

·          Mix Premium
1.       Beef Platter for 3-4 person          Rp.299.000,-
2.       Chicken & Beef for 3-4 person   Rp.285.000,- - Rp.320.000,-

·         Chijeu Chicken
1.       Hot Spicy                                          Rp.  99.000,-
2.       Cheezy Cheese                                 Rp.102.000,-
3.       Autentic                                             Rp.  80.000,-
4.       Barbeque                                           Rp. 99.000,-

·         Kids Meal
1.       Beef Bulgogi & Saussage               Rp. 36.000,-
2.       Crispy Chicken                                Rp. 28.000,-  

·         Jjigae
1.       Budae Jjigae Autentic                    Rp.  99.000,-
2.       Budae Jjigae Beef & Chicken       Rp.190.000,-

·         Korean BBQ
1.       Woosamgyeob for 1-2 person                    Rp.120.000,-
2.       Top Side Premium for 1-2 person             Rp.  60.000,-

·         Dessert
1.       Dragon Islan Bingsoo                   Rp.40.000,-
2.       Cokelat Oreo Bingsoo                   Rp.45.000,-
3.       Green Tasty Melon Bingsoo        Rp.40.000,-
4.       Read Bean Flower Bingsoo          Rp.40.000,-

·         Drink
1.       Green Tea Hot & Ice                                       Rp.19.000,-
2.       Strawberry Lemon for 3-4 Person              Rp.43.000,-
3.       Lemon Tea                                                       Rp.19.000,-
4.       Avocado smoothies                                        Rp.29.000,-

Masih banyak menu makanan dan minuman yang lainnya, kamu bisa datang langsung di Buldaq BBQ. Setelah menikmati makan siang yang super kenyang walau tanpa nasi, rasanya tubuh ini ndak kuat untuk berjalan karena efek kenikmatan Woosamgyeob, Budae JJigea, dessert  serta segelas avocado smoothies yang super  manis.



Buat kawan-kawan warga plat “R”, yang sedang berlibur atau singgah di Purwokerto bisalah mencicipi menu di Buldaq BBQ Purwokerto yang tentu sangat memanjakan lidah. Selamat Makan!!

Buldaq Korean BBQ Purwokerto
Rita Supermall 1F
Jl. Jenderal Sudirman, Sokanegara
Purwokerto, Jawa Tengah
Telp : (0281) 777 3574
Jam Buka             : 10.00 – 22.00
Website               : www.buldaq.com
Instagram            : @buldaq.bbq 
  


Selasa, 16 Juli 2019

Hari Kedua Menikmati Jajanan Cilacap, dan Sungai Serayu


Lepas Subuh aku sudah bangun cece pun, kami hanya leyeh-leyeh ditempat tidur sambil menunggu pukul 06.00, aku mengambil handphone untuk memberitahu Bang Juan jika sudah bangun.

Stasiun Cilacap
Restaurant Parapatan di Cilacap

Didepan pintu masuk RM. Sien Hieng
Tak berapa lama Bang Juan mengetuk pintu dan mengajak turun. Aku bersama Cece Lenny langsung turun, mengambil helm dan pergi menuju Pasar Sangkal Putung yang lokasinya tak jauh dari hotel. Perjalanan menuju pasar ditemani semilir angin yang dingin. Cilacap ketika aku datang pagi hari mencapai  suhu 18 derajat celcius, dingin untuk wilayah pesisir dan jika siang tidak panas sekali cenderung sejuk.

Lima menit berlalu, kami pun tiba di pasar,  langsung memarkirkan motor dan masuk ke dalam pasar. Pemandangan lazim disetiap pasar ya keramaian warga yang sedang berbelanja, aku berjalan kearah lokasi jajan pasar, aku membeli getuk dan talam cukup membayar Rp.5.000,- , lalu Bang Juan membeli sate ayam lengkap dengan lontong Rp. 10.000,-, tak ketinggalan Cece Lenny membeli donat 5 dengan harga Rp.5.000,-, belum puas kami masih membeli lanting satu ikat bamboo Rp.2,500,-, dan kami minum jamu tradisional supaya sehat dengan harga Rp.10.000,-.

Lepas jajan kami kembali ke lokasi parkiran dan duduk-duduk menikmati getuk sambil melihat lalu lalang warga selesai berbelanja, sementara Cece Lenny sibuk berbincang dengan seorang anak yang yang berjualan komang-komang. Lalu kami kembali menuju hotel, Cece dan Lichun akan kembali ke Purwokerto lebih awal karena kan meneruskan perjalanan ke Semarang, sedangkan aku dan Bang Juan memilih stay lebih lama dan akan kembali sore hari.

Jam sudah menujukkan pukul 09.00 pagi, Cece berpamitan padaku untuk kembali ke Purwokerto, karena saat itu posisiku sedang mandi jadi hanya lewat pintu kamar mandi, pesan aku hanya hati-hati diperjalanan. Selepas mandi dan beberes ransel aku mengetuk kamar Bang Juan untuk memberikan ransel dan berpesan akan jalan kembali jam berapa.

Ika                         : “Bang Juan, akan jalan jam berapakah?”,
Bang Juan          : “Sekitaran jam 11 yak, ntar sekalian makan siang baru balik ke Purwokerto”,
Ika                       : “Siap, aku sudah beberes semua barang yaa tinggal Bang Juan masukin baju-baju ke Ransel”,

Sambil menunggu jam 11.00 aku leyeh-leyeh ditempat tidur sambil menonton televisi, hampir saja ketiduran hahaha :D, menjelang Dzuhur aku ajak Bang Juan untuk check out, tapi sebelumnya aku meminta izin untuk melihat-lihat Stasiun Cilacap yang memang persis lokasinya didepan hotel. Kami berfoto bergantian di stasiun ini, kemudian menuju hotel mengambil ransel dan pamit untuk check out.

Motor melaju dengan santai sambil melihat-lihat, sambil kami berpikir akan makan apa siaang ini, tentu aku sambil mencari narasumber makanan khas Cilacap via google. Dapatlah tahu masak, namun info yang kami dapat  tahu masak tersebut bukannya sore hari. Hingga kami berputar-putar dahulu melewati alun-alun, kemudian memarkirkan motor disebuah Klenteng dan meminta izin apakah boleh memotret.

Bang Juan          : “Ibu, apakah boleh memoret?”,
Ibu                         :”Boleh, hanya diluar saja”,
Bang Juan          : “Baik , Bu”,

Setelah memoret kami pun berjalan-jalan disekitarnya dan tak segan aku meminta tolong Bang Juan untuk memoret ku didepan sebuah Rumah Makan Parapatan “Sien Hieng”, nampak legend rumah makan tersebut. Aku sempet berbisik ke Bang Juan.

Ika                         : “Bang Juan, makanan disini yuk?, tapi aku tanya dulu apakah halal”,
Bang Juan          : “iya”,
Tak berapa lama ada mbak berhijab keluar pintu yang ternyata pekerja disana. Lalu Bang Juan bertanya",
Bang Juan          : “Mbak, apakah rumah makan ini halal?”,
Mbak RM            : “Campur Mas”,
Ika                         : “Ndak usah ya Bang”,
Bang Juan + Ika : “Kami mengucapkan terima kasih ke Mbak tersebut”,

Selepas itu kami beranjak menuju Klenteng untuk mengambil motor dan mencari tahu masak, dapatlah tak jauh dari Pasar Gede, kami melihat gerobak bertuliskan “Tahu Masak Bu Yati”, kami lalu berputar arah menuju gerobak tersebut sambil melihat es dawet yang lokasinya tak jauh, memarkir motor lalu aku memesan satu porsi tahu masak untuk di makan berdua Bang Juan, kenapa cuma satu pesannya?, karena masih ada makanan lain yang akan kami coba.



Es Dawet

Tahu Masak

Penampakan Tahu Masak, hmmmm Yummy..

Lotek  terdiri dari bayam, kecambah, pepaya serut muda

Lotek lengkap dengan bumbu kacang dan mendoan
Mencicipi tahu masak yang enak, sambil bertanya bumbu-bumbu ke Bu Yati, tahu masak terdiri dari tahu yang goreng, lalu bumbu bawang putih, cabe, sedikit kacang tanah diulek hingga halus serta diberi air dan sedikit perasan jeruk nipis, kemudian tahu  dipotong-potong lalu diletakan dipiring diberi kecambah dan kubis yang telah diiris, bawang goreng dan kemudian kerupuk plus satu tempe mendoan, Selamat Menikmati!. Cukup kenyang makan tahu masak dan es dawet, lalu membayar ke Bu Yati seporsi tahu masak dan mendoan Rp.10.500,- /porsi untuk es dawet harga Rp.5.000,-/gelas, lalu berpamitan ke Bu Yati dan mendapat pesan untuk selalu berhati-hati dijalan. Terima kasih bu.


Lutis = Rujak Buah

Es Podeng Pak Somat

Penampakan Lutis
Kami masih saja berkeliling Cilacap untuk mencari jajanan selanjutnya, yang sedari kami lewat rame terus tepatnya tak jauh didepan sebuah apotik dan Bank BCA ada es podeng dan lutis yang pembelinya saja mengantri. Kami langsung berhenti, Bang Juan membeli es podeng aku memesan lutis. Aku harus menunggu lumayan lama karena mengantri begitu juga dengan Bang Juan. Lutis satu porsi Rp.10.000,- segar cocok dimakan saat panas dengan buah-buah segar seperti papaya, semangka, nangka, timun, bangkoang, untuk es podeng Pak Somat ini terbaik sepanjang masa aku makan ini, karena enak, esnya lembut, santannya meresap kedalam es serta menyatu dengan roti, alpukat dan susu coklat, kamu harus coba kalau mampir di Cilacap. Beristirahat sambil jajan sebelum lenjutkan perjalanan menuju Purwokerto.

Jam sudah menunjukkan pukul 13.00, kami pun menyudahi makan lutis dan berkemas menuju Purwokerto. Perjalanan butuh waktu satu jam akhirnya kami tiba di Rawalo, Banyumas melihat sebuah sungai dengan jembatan yang indah, aku minta Bang Juan untuk istirahat di warung makan sambil menunggu kereta lewat.


Sungai Serayu

Sungai Serayu

Sungai Serayu

Kereta Api dan Jembatan
Turun dari motor, memesan sepiring pecel dan dua teh manis lalu menitipkan tas. Aku dan Bang Juan akan bersantai di tepi sungai sambil berfoto, menunggu kereta lewat serta menerbangkan drone. Bahagia rasanya begitu kereta lewat aku ambil kamera dan membidiknya. Siang itu suasana sudah mulai sore, udara sangat sejuk untuk duduk berlama-lama, melihat persawahan menghijau,  menikmati terpaan angin dan sungai Serayu yang tenang tapi menghanyutkan.

Kalau saja Bang Juan kala itu tidak menyampaikan suatu pesan kepadaku, mungkin aku belum ingin beranjak dari sana.

Bang Juan          :” Mbak, airnya tenang yak?”,
Ika                         : “Iya Bang, sejuk sama terpaan anginnya”,
Bang Juan          : “Aku parno sama sungai yang tenang, tetiba muncul buaya”,
Ika                         : “tanpa menjawab aku langsung bangun bergegas mengambil tas dan kembali ke warung tempat aku menitip tas",



Pemandangan Sekitar Sungai Serayu

Persawahan

Bang Juan menerbangkan drone
Setelah berkemas, membayar jajan lalu berpamitan ke pemilik warung, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah Kak Olipe. Sampai Jumpa Cilacap!!,





Minggu, 14 Juli 2019

Tim Es Teroossss Goes To Cilacap


Percakapan dengan Bang Juan sebelum berangkat ke Purwokerto untuk acara Juguran Blogger 2019 adalah :


Pantai Karang Bolong, Pulau Nusa Kambangan  - Cilacap

Ika                         : “Bang Juan, selepas acara Juguran Blogger 2019 extend yuk?
Bang Juan           : “iyakkk, udah pernah ke Cilacap belum?
Ika                         : “belum, eh udah denk, tapi udah lama banget Bang, tapi kalau diajakin kesana lagi mau sih”,
Bang Juan           : “siap, motoran yak”,
Ika                         : “Baiklah, biar enak ya bang jalan-jalannya alias bisa berhenti dimana aja”,
Sedikit percakapan aku dengan Bang Juan, kawan perjalananku saat itu pasca lebaran.

Senin, 01 Juli 2019 selepas check out dari Hotel Meothel Purwokerto, Aku, Cece Lenny, Bang Juan dan Lichun dengan go car menuju Pandawa Rental Motor. Kami berencana menyewa motor untuk perjalanan Cilacap.

Tak berapa lama kami tiba di Pandawa Rental Motor dan terima oleh sang Ibu pemilik rumah, bahkan kami menghabiskan beberapa kue di toples, dasar tamu tak tahu diri candaku kepada kawan-kawan hehe... 

Pandawa Rental Motor memiliki armada baru Honda Beat, harga sewa per 24 jam antara  Rp. 70.000,- s.d Rp. 100.000,- dengan syarat meninggalkan 3 identitas yang beralamat yang sama, kemarin Bang Juan mengunakan KTP, KIS dan SIM A.

Lepas memberikan 3 identitas dan membayar tunai, kunci diberikan oleh Sang Ibu, aku dibonceng oleh Bang Juan, sedangkan Cece Lenny membonceng Lichun, (aku berkata ke cece, kamu memang perempuan tangguh ce). Tujuan awal adalah ke rumah Kak Olipe untuk menitipkan beberapa barang, aku sepakat menjadikan satu ransel dengan beberapa bawaan  Bang Juan agar simple dan ringan selama perjalanan.

Berapa menit kemudian kami sudah tiba di rumah Kak Olipe  dan disambut sangat manis olehnya, menyimpan barang lalu berangkat kembali. Ada kejadian memalukan nih disini, aku lupa memakai helm ditengah perjalanan menuju SPBU untuk mengisi bahan bakar yang sudah mulai menipis menuju huruf “E”.

Ika                         :  “Bang Juan, aku lupa pakai helm balik ke rumah Kak Olipe ya Bang”,
Bang Juan           : “iyaa, tanpa banyak kata-kata”,
Bang Juan           : “ Memberi kode ke Cece Lenny, untuk menunggu di SPBU terdekat”,
Cece Lenny        : “Menganggukkan kepala”, tanda setuju.

Begitu tiba di rumah Kak Olipe helm sudah disimpankan di teras, alhamdulillah pikirku apa kabar kalau didalam rumah dan terkunci, aku bakal sangat merepotkan orang lain.

Setelah memakai helm perjalanan dilanjutkan menuju SPBU, mengisi full bahan bakar agar perjalanan lancar hingga Cilacap. Lagi-lagi kejadian terulang ketika tiba di SPBU kami tidak menemukan Cece Lenny dan Lichun yang tadi berangkat lebih dalu. Aku mengambil handphone untuk bertanya dimanakah mereka.

Ika                         : “Cece, Kamu dimana? Aku  dan Bang Juan nunggu  di SPBU jalur yang menuju Cilacap”,
Cece Lenny        : “Aku menunggu di SPBU Pahlawan”,
Bang Juan           : “Suruh ke SPBU yang menuju jalur Cilacap “,
Ika                         :  “Cece ditunggu di SPBU yang menuju Jalur Cilacap yaa”,
Cece Lenny        : “Oke”,

Jeda beberapa waktu Cece Lenny dan Lichun tiba, kami pun tertawa dengan kebodohan masing-masing dasar #teledor.


Trowongan Lama

Trowongan Baru Double Track
Perjalanan kemudian dilanjutkan, lagi-lagi kami salah jalur harusnya mengambil arah Cilacap tapi ke Banyumas, lalu putar arah kembali menuju jalur yang benar. Perjalanan sangat seru karena pemandangan indah alam sekitarnya, kami berhenti di Jembatan Merah pertama untuk berfoto, setelah itu aku meminta izin berhenti ke Bang Juan begitu melewati trowongan kereta Kebasen. Mengambil beberapa foto lalu jalan kembali.

Pukul 13.30 sudah memasuki jalur antar provinsi  Banyumas - Cilacap ada beberapa jalur dalam perbaikan dan lumayan berdebu. Aku pun memberitahu Bang Juan sudah mulai lapar, berhentilah kami di warung mie ayam untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Memesan mie ayam dan es teh diselingi canda tawa kami ke penjual yang ternyata berasal dari Jambi, sama dengan kampung halaman Cece Lenny.

Selepas mengisi perut, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Teluk Penyu. Hanya butuh lima belas menit kami sudah tiba dipintu masuk Pantai Teluk Penyu dengan membayar Rp. 30.000,- untuk empat orang lengkap dengan asuransi, jadi per orang Rp. 7.500,-. Lepas membayar kami langsung masuk ke area Pantai Teluk Penyu bertemu dengan Pak Anto pemilik kapal sewaan untuk ke Nusakambangan. Kami meyewa kapal  Rp.140.000,- PP Pantai Teluk Penyu – Pantai Nusa Kambangan lebih kurang 15 menit menyebrang.

Kami hanya punya jatah 2 jam untuk menikmati pantai, menurut Pak Anto jika sore air sudah mulai pasang, dan benar saja ombak laut Selatan memang dasyat. Begitu tiba kami memilih menyusuri pantai daripada ke benteng.

Bersantai kami

Pantai Karang Bolong Pulau Nusa Kambangan

Kapal Tongkang
Aku, Bang Juan, Cece Lenny dan Lichun menyusuri pantai disisi utara yang kala itu surut airnya hingga berhenti di Pantai Karang Bolong. Aku memilih disitu karena tidak terlalu jauh untuk kembali dititik penjemputan kapal. 2 jam tak terasa kami menikmati pantai, berfoto, melihat kapal nelayan hilir mudik, kapal tongkang dan pemandangan Gunung Slamet dikejauhan, benar-benar cantik.

Pemandangan Laut dan Gunung Slamet  
Pantai Karang Bolong di Nusa Kambangan sangat cantik serta bersih dikelilingi pepohonan khas pantai, waktu berlalu aku merasa ombak pantai semakin tinggi dan meyakinkan jika semakin sore akan pasang. Waktu sudah menunjukkan 16.54 aku mengingatkan Bang Juan untuk menurunkan drone, Cece Lenny dan Lichun untuk merapihkan pakaian dan perlengkapan kamera. 

Setelah rapi kemudian berjalan menyusuri jalan yang kita lewati tadi, namun sudah berubah air sudah pasang dan aku harus melewati jalur air setinggi dengkul karena ya memang aku pendek sih. Pelan-pelan aku berjalan sambil berpegangan karang disamping karena takut terhembas air yang sudah mulai pasang. Tak berapa lama sudah tiba dititik penjemputan kapal, Bang Juan menghubungi kapal untuk menjemput, kami pun hendak kembali kedaratan.

Begitu tiba kami lalu bertanya ke Pak Anto dimanakah ada penginapan, diberitahu disekitaran pantai dan sudah disurvei Cece Lenny. Sambil menunggu aku mulai mencari informasi, disekitaran kota atau stasiun akhirnya dapat info di sekitaran Stasiun Cilacap. Kami pun pamit ke Pak Anto untuk menuju  Hotel Pojok depan Stasiun Cilacap.

Bang Juan kemudian bertanya ke pemilik, kebetulan ada kamar kosong masing masing bisa untuk dua orang, harga per kamar Rp. 100.000,-/malam tanpa sarapan dengan fasilitas area parkir motor, tempat  tidur, kipas angin, televisi, lemari kecil, meja dan dua kursi, kamar mandi dalam  dengan wc jongkok. Kami menempati kamar dilantai dua, aku bersama Cece dan Bang Juan dengan Lichun.

Setelah bebersih atau mandi kami sepakat berkumpul pukul  19.00 menuju alun-alun untuk makan malam dan menikmati suasana malam di Cilacap. Suasana malam disekitar alun-alun sangat ramai, kami kemudian mencari parkir dan menemukan sebuah tempat makan bernama “Tenda Biru”. Kenapa aku memilih warung tenda ini, karena sangat ramai pengunjung. Benar saja, enak semua makanan yang kami pesan. Aku memesan mie goreng seafood, Bang Juan ayam kremes + nasi, Cece Lenny mie ayam dan Lichun Kwetiaw goreng beserta minum  es jeruk dan teh hangat total Rp.103.000,- untuk ber empat.

Nasi Ayam Kremes

Bakmi Ayam

Mie Goreng
Selepas membayar kemudian kami melihat ke area pasar malam, melihat wahana ontang-anting, bianglala dan ombak asmara. Suasana begitu ramai kami pun sangat menikmati malam di Cilacap ini, lepas berkeliling kami pun sepakat kembali ke hotel sudah didera rasa mengantuk. Sesampainya dihotel aku langsung bebersih dan kemudian tidur, karena esok pagi bersama Bang Juan akan berkunjung ke pasar tradisional. Selamat Malam!!

Berlanjut di Hari Kedua Menikmati  Jajanan Cilacap, dan Sungai Serayu…..












KopDar Social@Grab : Membangun Indonesia, Bersama

Sore itu selepas meeting, aku   berangkat mengunakan Trans Jakarta menuju Kuningan, memenuhi undangan KopDar Social@Grab yang lokasinya di...