Kamis, 10 September 2015

Sala Lauak Sarapan Khas Pariaman


Mendengar Pariaman pasti sudah banyak yang tahu, daerah pesisir di Sumatera Barat. Saya sempet mampir di Kampung Jawa Pariaman sebagai rangkaian dari beberapa perjalanan di Ranah Minang ini. Kalau menyebut makanan di Ranah Minang sudah pasti banyak macamnya dan tidak bisa disebutin satu-persatu saking banyaknya, di Pariaman sendiri ada ketupat gulai tunjang, sala dllnya. Dan yang akan saya bahas disini adalah mengenai sarapan pagi yang namanya "SALA LAUAK".

Sala Lauak, Sambal Karambia dan Ketupat sebagai pelengkap 
Sala Lauak
Ketupat Santan
Sambal Karambia terbuat dari kelapa dan bumbu rempah
Sambal cabe sebagai pelengkap untuk rasa pedas di Sala Lauak
Selamat Menikmati
Sala adalah hidangan berbentuk bulat kecil sebesar ibu jari yang digoreng terbuat dari udang, ikan atau kepiting dilengkapi dengan ketupat, sambal karambia (terbuat dari kelapa dan bumbu rempah) makanya disaat hangat-hangat sambil minum teh di pagi hari. Sebagai kudapan di Pariaman Sala ini banyak ditemui harga mulai Rp. 500 - Rp 700,- biji. Buat para sahabat pejalan yang rindu dengan makanan khas Pariaman ini bisa untuk mencoba membuat sendiri. Selamat menikmati.

Berikut bahan-bahan membuat Sala Lauak :
Bahan utama:
125 gram tepung beras
15 gram rebon, direndam air panas, tiriskan
1 lembar daun kunyit, diiris halus
1/2 sendok teh garam
180 ml air mendidih
2 siung bawang putih
2 buah cabai merah
1 cm kunyit
1 cm lengkuas


Cara Membuat:
– Campurkan tepung beras dan bumbu halus. Sangrai 15 menit hingga kekuningan, kemudian angkat 
– Tambahkan rebon, daun kunyit, garam, dan air mendidih. Aduk rata sampai dapat dibentuk
– Ambil sedikit adonan. Bentuk bulat. Goreng hingga kuning kecokelatan dan matang, kemudian tiriskan minyak sisa penggorengan
– Sajikan.





Rabu, 09 September 2015

Rumput Laut Desa Tablolong yang mendunia…

Tak ada yang tahu dibalik keindahan Pantai Tablolong ternyata ada budidaya pertanian rumput laut kualitas ekspor terletak di Desa Tablolong kecamatan Kupang Barat Nusa Tenggara Timur, berjarak sekitar tiga puluh kilometer dari Kupang.



Padahal dini hari tadi sekitar pukul satu waktu Indonesia tengah aku baru saja tiba di Pelabuhan Bolok dari Ende, setelah delapan belas jam melakukan perjalanan laut dengan KM Awu. Walau begitu tidak membuatku menolak ajakan Kak Inda untuk mengajakku ke Pantai Tablolong bersama Pras dan Ayank (adik Kak Inda). Kami berempat melakukan perjalanan ke Pantai Tablolong, wah indah banget pikirku permandangan disini, terlihat juga anak-anak SD berangkat menuju sekolah, aku sapa mereka dengan lambaian tangan dari jendela mobil.
Sepanjang perjalanan selama satu jam menuju pantai indah ini dihiasi santigi (pempis acidula) tumbuhan perdu yang banyak diburu orang karena keunikannya. Santigi tumbuh liar di beberapa bagian pantai. Namun, sejak beberapa tahun terakhir tanaman ini diambil secara diam-diam oleh warga asal luar Nusa Tenggara Timur sehingga kini populasinya sudah berkurang. Akhirnya kami tiba di pantai tablolong, wah pantai berpasir putih, berair jernih dan langit biru sebagai bonus perjalananku di Kupang. Liburan di weekday  memang asik tidak banyak yang kunjung dibandingkan hari libur hehehe …:D aku sempatkan berfoto dan bermain air sejenak lalu melanjutkan ke desa tablolong  sebagai penghasil rumput laut yang jaraknya tak jauh dari sini.
Ayank memakirkan mobil lalu kami berjalan menuju pantai untuk melihat petani yang sedang memanen rumput laut, aku berkenalan dengan Pak Frans, Mama Lusi dan anaknya Odie yang sedang mengangkut rumput laut dari pinggir pantai untuk dijemur. Aku izin membantu mama Lusi dengan mengangkat rumput laut itu bolak-balik. Karena sudah mulai cape aku izin beristirahat dan berteduh karena memang disini sangatlah panas. Mama Lusi mengambil air minum untuk kami berempat. Aku banyak bertanya kepada Pak Frans tentang budi daya rumput laut disini yang beliau katakan di ekspor ke Eropa, Amerika dan Jepang.




Tanaman rumput laut tergolong tanaman berderajat rendah, umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu, tidak mempunyai akar, batang maupun daun sejati, tetapi hanya menyerupai batang yang disebut thallus. Rumput laut tumbuh di alam dengan melekatkan dirinya pada karang, lumpur, pasir, batu dan benda keras lainnya (Anggadiredja dkk, 2006).
Terdapat Jenis-jenis rumput laut yang bernilai ekonomis penting dan sudah sejak dulu diperdagangkan yaitu Eucheuma sp, Hypnea sp, Gigartina sp, Chondrus sp sebagai penghasil karaginan, Gracilaria sp, dan Gelidium sp sebagai penghasil agar-agar serta Sargasum sp, Turbinaria sp sebagai penghasil alginat (Anggadiredja dkk, 2006).
Komoditi rumput laut  ini sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat lokal di Nusa Tenggara Timur, salah satu jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat Tablolong adalah Eucheuma cotonii (Kappaphycus alvarezii) jenis ini banyak dibudidayakan karena teknologinya mudah, harga relatif murah serta metode pasca panen tidak terlalu sulit. Selain sebagai bahan industri rumput laut jenis ini juga dapat diolah menjadi bahan makanan yang dapat dikonsumsi secara langsung baik dalam keadaan mentah ataupun dimasak sebagai sayur.
Cara awal membudidayakan rumput laut dengan berat awal seratus gram diikat dengan tali rafia untuk selanjutnya diikat pada tali nylon sebagai tali utama. Panjang tali utama adalah enam puluh meter yang terbagi menjadi lima tali terdiri masing-masing dua belas meter, jarak antar bibit empat puluh centimeter. Jarak antara tali adalah satu meter, Jumlah bibit yang ditebar pada masing-masing tali tiga puluh rumpun atau ikat. Kedua ujung tali utama diikat masing-masing dengan seutas tali yang dihubungkan dengan pemberat. Dibiarkan selama dua bulan atau delapan minggu. Tidak hanya ditanam dan ditunggu selama itu tetapi juga dilakukan pengawasan satu sampai dua hari sekali.
Proses panen pun menurut Pak Frans bila rumput laut telah mempunya berat sekitar empat kali dari berat awal atau setelah masa tanam satu setengah sampai dua bulan,  cepat atau tidaknya panen tergantung metode dan perawatan yang dilakukan setelah bibit ditanam. Pengawetan rumput laut setelah masa panen diangkat mengunakan sampan, lalu diangkat mengunakan keranjang, di jemur sampai kering di “para-para” yang terbuat dari bambu dan tidak boleh di tumpuk. Penjemuran hanya membutuhkan tiga hari, agar hasilnya berkualitas tinggi, rumput laut yang kering ditandai dengan telah keluarnya garam. Setelah kering rumput laut akan menyusut sepuluh kali lipatnya, sementara warna rumput laut akan berubah dari hijau menjadi coklat karena serapan sinar matahari mengurangi pigmen warna. Selain itu pengeringan juga  mengurangi resiko pembusukan akibat bakteri dan jamur, sehingga menghasilkan kualitas rumput laut yang memiliki mutu tinggi untuk dapat di ekspor ke luar negeri. Karena rumput laut desa tablolong sudah ada pelanggan tetap dari berbagai Negara.
Mengakhiri perbincangan dengan Pak Frans dan keluarga, aku meminta izin untuk kembali ke Kupang. Karena flight sore sudah menunggu untuk kembali ke Surabaya. Aku dan rekan-rekan pamit dan mengucapkan terima kasih ke beliau. Sebelum kembali aku sempatkan berfoto dan bermain bersama anak-anak nelayan yang malu-malu untuk diajak berfoto.



Di akhir perjalanan menuju Kupang sempat terpikirkan, tentang usaha pengolahan rumput laut ini. Sangat disayangkan pengelolaan rumput laut yang  sederhana oleh masyarakat tablolong ini masih kurang mendapatkan perhatian oleh pihak terkait. Padahal permintaan pasar begitu pesat dari Negara-negara luar. Namun perjuangan mereka menikmati hidup  tanpa putus semangat sedikit pun patut di acungi jempol.

Tips Ke Pantai Tablolong :

1.      Transportasi menuju Kupang banyak sekali baik dari Jakarta, Surabaya maupun Denpasar tersedia berbagai maskapai dari Garuda Indonesia, Lion, Sriwijaya, Citilink

2.      Bila datang dari bandara El Tari rekan - rekan dapat menggunakan jasa angkutan umum menuju terminal Tabun dengan biaya Rp. 2500.- / orang lalu disambung angkot menuju Pantai Tablolong dengan biaya Rp. 2000,- / orang, menyewa motor Rp. 75.000,- / hari atau rental mobil kisaran Rp. 300.000,- / hari dan membutuhkan jarak tempuh tiga puluh kilometer selama satu jam dari pusat kota Kupang

3.      Penginapan di Pantai Tablolong berupa homestay Rp. 125.000,-/ malam dan dapat sarapan.





Selasa, 08 September 2015

Persahabatan


Aku tulis tentang persahabatan ini terinspirasi oleh 2 sahabatku yang menikah 8 Maret 2015 Lalu, mereka adalah Pras dan Adin. Tanpa rencana pada tanggal 21 Agustus 2015 malam mereka tiba di Yogyakarta, Aku dan Mas Rois jemput mereka di Cirkle - K Sosrowijayan. 

Aku dan Pras memang sahabat lama, dulu Pras ini sahabat #ngebolang bareng entah ke Minangkabau, Tengger, Yogyakarta, Flores pokoknya kalau jalan enggak jelas gitu.

Nah tahun ini Pras jalan-jalan bareng istrinya (namanya Adin) Ibu guru Rock n Roll.

Kebetulan tanggal 22 Agustus 2015 adalah hari ulang tahun Pras ke 29, mulailah aku, Adin dan Mas Rois punya rencana gilak hehehe, maaf yaa...ada kue ultah dan angkanya, maklum di toko kuenya cuman ada angka :D

Tepat jam 12 malam aku dan adin menyiapkan kuenya, walau sorenya aku gundah saat ambil kue gak ada kulkasnya. Alhamdulillah pihak hotel bersedia meminjamkan kulkas untuk simpan kue, baru deh aku lega sama Mas Rois.





Acara di mulai dari tiup lilin, potong kue, baca surat cinta sampai Dedy dan Ajo datang untuk menikmati kuenya.



Karena hari sudah larut malam, aku izin untuk istirahat, maklum gak bisa begadang nih mata. Esok paginya aku, Mas Rois, Pras dan Adin jalan ke depan Sosrowijayan untuk sarapan soto daging yang sudah menjadi langganan Pras. Setelah itu kembali ke hotel untuk ngobrol-ngobrol. Lepas sore hari kita janjian ber8 ke Taman Budaya Yogyakarta dan kemudian duduk-duk dan makan di Angkringan samping Mirota Malioboro.





Kumpulah ber8 terdiri dari Mas Rois, Pras, Ajo, Dedy, Deli, Aku, Adin dan Rhinda keesokan harinya sepakat untuk jalan-jalan ke Gumuk Pasir istilahnya main Sandboarding (semoga tulisannya gak salah).




Setelah puas jalan-jalan berkumpul untuk makan bareng di angkringan wijilan yang kemudian mengantar Pras dan Adin ke penginapan. Sampai ketemu diperjalanan selanjutanya kawan.

Nilai yang terdapat dalam persahabatan seringkali apa yang dihasilkan ketika seorang sahabat memperlihatkan secara konsisten :

Terima kasih untuk para sahabat disini Mas Rois, Pras, Dedy, Deli, Ajo, Rhinda dan Adin.

Sabtu, 05 September 2015

eDAN-eDANan Festival Kesenian Yogyakarta 2015




Sore itu Aku, Mas Rois, Pakde dan Ajo janjian akan datang ke acara pembukaan FKY ramai sekali pikirku. Aku dan Pakde hunting foto bareng sedangkan Mas Rois dan Ajo ikutan pawai jalanan bersama kontingen Marching Bleck dari Jodok Bantul. Festival Kesenian Yogyakarta ke 27 yang di buka pada tanggal 19 Agustus 2015 diawali dengan pawai jalanan dari GPPH UGM - Perempatan Selokan Mataran dihadiri oleh 30 kontingen dari Kota dan Kabupaten di Yogyakarta.

Tema FKY ke 27 ini adalah Dadan yang dalam bahasa jawa berarti bersolek dan berbenah. Bersolek identik dengan aktivitas yang menuntun pada estetika, paras atau penyajian. Sedangkan berbenah  identik dengan upaya perbaikan fisik dan non fisik.

Konsep FKY 27 ini adalah upaya untuk menyajikan seni dan budaya Yogyakarta, baik wilayah kota maupun kabupaten  sebagai wujud karakter dari Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya.





Adapun tema pawai jalanan ini adalah eDAN-eDANan yang dimulai pukul 3 sore ini berjalan sekitar 800 meter  terdiri dari 30 kontingen yang ikut pun berdadan meriah sekali.  Ndandani membutuhkan peran serta semua masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. 

Meskipun perserta yang ikut pawai jalanan ini berbeda  namun mereka tetap mampu menyajikan dan menjadikan paras seni budaya Yogyakarta yang lebih baik, ada kontingen dari Palangkaraya Kalimantan Tengah dengan kostum Dayak dengan tarian dan alat musiknya, ada Marching Bleck dari Jodok Bantul dengan kostum unik dan alat musik sederhana namun bisa menyajikan sebuah seni yang elegan.




Adapun acara Festival Kesenian ini berlangsung dari 19 Agustus - 05 September 2015 berlangsung di Taman Kuliner Condong Catur. Terdiri dari berbagai macam acara antara lain Pawai Jalanan, Pasar Seni FKY, Panggung Pertunjukan, Lomba dan Workshop, Pangung Edan-Edanan, Sastra : Ini Muka, Siapa Punya?, Bioskop FKY, Panggung Senyap, Paperu : Laras Sinawang, Diskusi Seni FKY, Teater FKY, JVMP.

Acara FKY 27 ini pun ditutup dengan sangat meriah pada hari Sabtu, 05 September 2015 di Taman Kuliner Condong Catur, sampai jumpa tahun depan.



Kamis, 03 September 2015

Kampung Bena Peninggalan Megalitik di Kaki Gunung Inerie



Kampung Bena adalah kampung tradisional  peninggalan megalitikum yang terletak di Desa Tiwuriwu kecamatan Aimere Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur, untuk mencapai kesini bisa rental motor dari penginapan tarif Rp. 75.000,-/ 12 jam atau naik ojek dan ditunggu sekitar Rp. 50.000,-. Sewaktu di Bajawa saya menginap di hotel korina merupakan hotel sederhana tapi pelayanannya jauh dari sederhana. Tarif yang diberikan cukup terjangkau antara Rp.100.000,- s.d Rp.200.000,-/malam. Letaknya terdapat di Jalan Ahmad Yani, Telp. : 0384 21162, karena tiba sudah sore aku pesan ke receptionist untuk rental motor esok harinya karena  ingin ke Desa Bena, tempat pembuatan kopi KSU Famasa dan jalan – jalan ke pasar Bajawa.



Tepat jam 7 (tujuh) pagi motor sudah siap dengan 1 helm hehehe…:D mulai deh berangkat sendirian ke Desa Bena jaraknya sekitar 19 Km dari Bajawa dengan jalan berliku – liku dan sesekali berhenti bertanya pada warga sekitar, maklum lupa jalurnya, Alhamdulillah akhirnya sudah mulai telihat gunung Inerie itu pertanda Desa Bena sudah dekat.
Ketika tiba dan mengisi buku tamu, ternyata hari ini ada upacara adat kenduri atau sembelih kerbau dengan sekali tebas oleh algojo yang akan dipersembahkan kepada leluhur yang telah meninggal. Karena upacara akan dilaksanakan siang hari aku izin dulu berjalan – jalan ke atas dan bertemu dengan mama Vero yang sedang menenun kain. Penduduk desa Bena merupakan suku Bajawa yang beragama Khatolik  namun sesekali masih mengadakan persembahan untuk dewa Yeta bertempat di Gunung Inerie yang di percaya melindungi desa mereka, mayoritas penduduk kampung ini bekerja di ladang sedangkan perempuannya menenun.
Kampung ini terdiri kurang lebih 40 rumah dan memanjang dari utara – selatan dengan pintu masuk disebelah utara, ditengah perkampungan ini banyak terdapat beberapa peninggalan megatilitikum seperti bhaga dan ngadhu, bangunan bhaga mirip dengan pondok kecil (tanpa penghuni), sementara ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk hingga bentuknya mirip pondok peneduh untuk tiang ngadhu biasa dari jenis kayu khusus dan keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantung hewan kurban ketika pesta adat.
Arsitek perkampungan ini belum sama sekali tersentuh kemajuan teknologi, karena penduduk disini masih memegang teguh adat peninggalan leluhur mereka. Bentuk bangunannya pun tidak hanya untuk hunian semata, namun memiliki fungsi dan makna mendalam yang mengandung kearifan lokal dan masih relevan diterapkan masyarakat pada masa kini dalam pengelolaan lingkungan binaan yang ramah lingkungan. Masyarakat bena sangat menjunjung tinggi gotong royong, kerjasama,  dan kerja keras.



Setelah selesai berbincang dengan mama Vero aku izin untuk melihat upacara kenduri akan dimulai, aku penasaran ingin melihatnya walau hati ini menolak karena biasanya suka lemas kalau lihat darah mengalir..:), kerbau diikat dan dipotong dengan sekali tebas oleh algojo. Ternyata algojo yang bertugas ini harus melakukan ritual dahulu sebelum pemotongan, konon dipercaya kalau sampai salah berarti tidak mendapat izin Dewa Yeta yang bersinggasana di gunung Inerie. Selepas dilakukan pemotongan kerbau, pihak keluarga yang melakukaan ritual  kenduri mengambil darah kerbau tersebut untuk dibalurkan di ngadhu sebagai persembahan untuk para leluhur yang sudah meninggal. Selesai membalurkan darah kerbau tersebut kerbau dikuliti dan dimasak secara gotong royong untuk dibagikan keseluruh keluarga dan masyarakat. Banyak hal yang aku dapat saat berkunjung di desa ini dimana jiwa gotong royong masih di pegang teguh. Setelah selesai melihat upacara kenduri  dan membantu para mama memasak, setelah itu aku kembali ke mama Vero untuk izin kembali ke Bajawa.



Sesampainya di Bajawa kusempatkan main ke pasar tradisional dengan uang Rp. 10.000,-  sudah dapat pisang dan buah nona, lumayan buat cemilan di kamar, yang aku suka dari main di pasar ini,  karena interaksi penjual dan pembeli yang terkenal senang berbincang-bincang dengan keramahannya. Ada beberapa transportasi menuju Bajawa baik dari Ruteng maupun Ende pelabuhan laut Aimere. Terima kasih untuk mama Vero dan para warga Bena yang sudah menyambut begitu baik.

Tips Menuju Desa Bena :
1.      Penerbangan Kupang – Bajawa ada (setiap hari) Bandara El Tari Kupang Telp : +62 380 822 555 website www.trannusa.co.id
2.      Hotel Korina Jalan Ahmad Yani Telp : +62 384 21162 tarif Rp. 100.000,- s.d Rp. 200.000,-/malam
3.      Perjalanan dari Ruteng – Bajawa ditempuh selama kurang lebih tiga jam aku naik travel avanza dengan tariff Rp. 25.000,-/orang
4.      Transportasi selama di Bajawa bisa menyewa motor Rp. 75.000,-/hari atau minta diantar ojek harga bisa di negoisasi.
5.      Tempat makan ada Lucas restaurant di Jl. Ahmad Yani Bajawa tak jauh dari hotel korina dan banyak lagi makan-makanan seperti soto disekitar pasar Bajawa
6.      Harga yang tertera di atas adalah harga pada April 2012.


Selasa, 01 September 2015

Danau Kelimutu



Perjalananku ke Ende tanpa rencana, semua spontanitas..berawal dari setiap hari duduk dipinggir dermaga Labuan Bajo sambil menikmati#senja dan bermain bersama warga sekitar…membuat aku dikenal oleh petugas security pelabuhan #tsssaah kayak artis terkenal, Pak Abdul namanya. Hari itu setelah berkeliling Pulau Komodo Saya dan Pras kembali ke Bajo dan iseng bertanya ke Pak Abdul ada kapal bersandar apa malam ini dan kemana? beliau menjawab besok pagi ada kapal ke Bima dan Maumere *sekejab aku menolah ke temen sebelah ke Maumere aja yuk*, karena kapal  yang kami akan tumpangi berangkat besok pukul 7 pagi akhirnya malam ini harus cari penginapan di Bajo, pasca sail Komodo, akan ada acara festival film Internasional dan Eltari cup di Labuan Bajo membuat hotel-hotel disini penuh.
#Senja Labuan Bajo Flores NTT
#Senja Labuan Bajo Flores NTT  16 Sept 2013
Setelah cari sana-sini tidak dapat juga,si empunya Hotel Mutiara menawari kami matras, akhirnya kami berdua dapat matras dan tikar untuk melepas lelah malam ini setelah berkeliling di Pulau Komodo dan sekitarnya. dimeja makan hotel aku duduk santai sambil menikmati susu panas yang aku pesan sambil menunggu rekan yang mandi, disana aku ngobrol dengan 2 (dua) remaja SMA dari Ende yang ikutan acara Sail Komodo kemarin banyak yang kami bincangkan dari berbagai hal destinasi di Indonesia, tapi aku cerita *aku jatuh cinta dengan bumi NTT khususnya*, karena asik ngobrol mereka bertanya mau lanjut kemana setelah ini jawabku Maumere dan Ende, karena mereka berasal dari Ende aku terus bertanya kenal tidak dengan kakakku yang satu ini *Encim Tuteh* mereka bilang calon bupati hah..kaget aku mendengarnya tidak percaya, selama ini encim tidak pernah cerita kepadaku hehehe..
Kami lanjut beristirahat karena perjalanan masih panjang, pagi hari aku sudah bangun dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan ke Maumere dengan Kapal Perintis Km. Perintis Nuansa Abadi jurusan Calabai – Bima – Labuan Bajo – Reo – Palue – Maurole – Maumere dengan Tarif Rp.75.000,-/orang murah bukan dengan perjalanan betapa panjang akan perjalananku ini, tapi dalam setiap aku backpack tidak hanya destinasi tapi buatku lebih ke makna perjalanannya menuju tempatnya.
Suasana di dalam KM Perintis Nuansa Abadi
Suasana di dalam KM Perintis Nuansa Abadi 17 Sept 2013
Perlengkapan Backpack Buku, Goprp, Camera, kacamata dllnya
Perlengkapan Backpack Buku, Gopro, Camera, netbook, kacamata dllnya
Kami berdua berjalan menuju Pelabuhan tak jauh dari Hotel Mutiara diantar ibu pemilik sampai gerbang pelabuhan *baik sekali pikirku ibu ini sudah memberi kami sarapan 2 donat dan susu*, kami langsung pamit Insya allah datang lagi ke Bajo *ungkapan dalam hati*.
Setelah kapal bersandar ternyata banyak juga yang naik tapi mereka hanya sampai Reo saja. kami naik ke atas kapal dan mencari tempat alhamdulillah dapat tempat yang asik dan PW, disinilah makna perjalanan dan kekeluargaan terbentuk ada keluarga dari BIMA, ada keluarga Polisi dari Mataram ah banyak gak bisa disebut satu-satu.
Banyak hal yang kami lakukan diatas kapal selain tidur hehehehe, memasak, membaca buku, menulis catatan kecil agar tidak lupa, nonton film, berbincang dengan ABK kapal sampai share tentang Indonesia yang indah, bermain dengan anak-anak diatas kapal dllnya.
Pras rekan saya sedang memperlihatkan foto-foto keindahan Indonesia ke sesama penumpang KM. Nuansa Abadi
Pras rekan saya sedang memperlihatkan foto-foto keindahan Indonesia ke sesama penumpang KM. Nuansa Abadi
Setelah melewati Reo lanjut Pulau Palue ada pemandangan pasca meletusnya Gunung Rokatenda, gunung ini terlihat jelas telah melepaskan lahar ke dalam laut, kabar Gunung Rokatenda tidak begitu booming seperti merapi Jogjakarta, entah mengapa kurang sekali perhatian pemerintah pusat untuk para korban disana.
Gunung Rokatenda di Pulau Palue yang beberapa lalu meletus
Gunung Rokatenda di Pulau Palue yang beberapa lalu meletus
Gunung Rokatenda Pulau Palue Kab. Sikka Flores NTT pasca meletus
Gunung Rokatenda Pulau Palue Kab. Sikka Flores NTT pasca meletus
Patung Yesus Kristus di Perbukitan Maumere Flores NTT
Patung Yesus Kristus di Perbukitan Maumere Flores NTT
Akhirnya setelah perjalanan panjang tepat jam 15.00 WITA kami tiba dipelabuhan Maumere, kami jadi berubah pikiran mau lanjut ke Moni via travel setelah pamit dengan penumpang lain kami turun dan menawar ojek di Bantu Pak Polisi yang bareng aku tadi dari L. Bajo, kami naik ojek Rp. 20.000,-/berdua diantar hingga ke Travel. Alhamdulillah Travel Ke Moni masih ada kami ditawari Rp. 180.000,-/berdua dengan syarat aku meminta diantar hingga Balai Taman Nasional Kelimutu karena Kakakku *Kak Hengky* sudah menunggu disana agar aku bisa menikmati sunrise dan dinginnya Kelimutu. Jam 18.30 kami tiba didepan Bali Taman Nasional Kelimutu disambut Kak Silverster, kak Sil ini adalah teman Kak Yosie temanku di Bajawa. Setelah menaruh ransel kami lanjut ngobrol dan makan malam bersama seru obrolannya dari perjalanan hingga Pras memberi share tentang Fotografi Kak Hengky dan Kak Sil semnagat mendengarkan pelajaran Fotografi yang diberikan. setelah itu kami lanjut beristirahat karena mau liat sunrise di Kelimutu, tapi sayang agak telat sedikit karena alarm Pras masih waktu WIB hehehe..Kami bangun dan menyeduh kopi didepan Balai sambil menikmati sunrise, indah luar biasa sunrise pagi ini walau telat bangun.
Selmat Pagi dari #Sunrise Taman Nasional Gn. Kelimutu Kab. Ende Flores NTT
Selmat Pagi dari #Sunrise Taman Nasional Gn. Kelimutu Kab. Ende Flores NTT
Setelah menikmati sunrise kami lanjut dipinjamkan motor dari petugas balai untuk ke Danau Kelimutu. Danau Kelimutu jaraknya 88 Km dari Maumere dan 70 Km dari Kota Ende, bisa ditempuh dengan Bus dari Ruteng, Bajawa, Ende turun di Moni dari pertigaan Moni 13 Km untuk mencapai Danau Kelimutu dengan mengisi di Buku Tamu Taman Nasional Gunung kelimutu dan membayar restribusi. Pagi hari sekitar jam 04.00 Wita saat yang tepat datang ke tempat ini, Sunrisenya indah sekali.
Ketika kamu sudah tiba dilapangan parkir, dilanjutkan trackking sekitar 620 tangga _+ sih, niscaya disambut burung khas Kelimutu selalu ku ingat, *karena sudah 3 kali aku datang ke Kelimutu* luar bisa memang Danau ini membuat aku betah berlama-lama menikmati keindahan, keramahan, dan kesejukan udara disini tenang dan damai pikirku.
Cuaca sangat cerah ketika Aku datang ke Gn. Kelimutu
Cuaca sangat cerah ketika Aku datang ke Gn. Kelimutu
Pohon Pinus terhampar luas di Gn. Kelimutu
Pohon Pinus terhampar luas di Gn. Kelimutu
Tebing curam disekitar danau "berhati-hati jika melewatinya karena mudah runtuh"
Tebing curam disekitar danau “berhati-hati jika melewatinya karena mudah runtuh”
Pemandangan Puncak Gn. kelimutu dari Tiwu Ata Polo
Pemandangan Puncak Gn. kelimutu dari Tiwu Ata Polo
Danau Pertama "Tiwu Ata Polo" Ende Flores NTT
Danau Pertama “Tiwu Ata Polo” Ende Flores NTT
Danau kedua "tiwu Nuwawuri Ko'ofai" temapt bersemanyam arwah muda-mudi
Danau kedua “Tiwu Nuwawuri Ko’ofai” tempat bersemanyam arwah muda-mudi
Danau ketiga "Tiwu Ata Mbupu" tempat berkumpulnya arwah orang tua
Danau ketiga “Tiwu Ata Mbupu” tempat berkumpulnya arwah orang tua
Gunung Kelimutu adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur Indonesia untuk menuju kesini bisa via Jakarta – Kupang, lanjut Kupang – Ende atau Jakarta – Denpasar dilanjutkan Denpasar – Ende tentu kalau via pesawat akan terlihat mahal biayanya kalau menurut aku tripsnya cari pesawat promo dan dilanjutkan naik kapal laut dari Kupang – Ende ada KM AWU dengan harga Rp. 91.000,-/orang dan ASDP Ferry Ile Mandiri harga Rp. 97.000,-/orang jadwal bisa dicek di web Pelni  dan ASDP.
Lokasi Gunung Kelimutu sendiri di Desa Pemo kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende. gunung ini memilki tiga buah kawah dipuncaknya, danau ini juga dikenal dengan sebutan danau tiga warna karena warnanya yang selalu berubah-rubah bisa merah, putih, biru, hijau dllnya sesuai beriringnya waktu.
Gunung ini berada diketinggian 1631 mdpl, asal kelimutu adalah gabungan dari “keli” artinya Gunung dan “mutu” artinya mendidih. jadi menurut masyarakat adat berarti wrna-warna yang terjadi di ketiga danau tersebut masing-masing memiliki kekuatan alam yang sangat dasyat. Ketika saya datang pada tanggal 21 September 2013  danau satu atau  “Tiwu Ata Polo” artinya tempat berkumpulnya arwah yang selama hidupnya melakukan kejahatan sedang berwarna hijau toska , danau kedua  atau “Tiwu Nuwa muri Koo Fai” artinya tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal sedang berwarna putih susu dan danau ketiga atau  “Tiwu ata Mbupu” sedang berwarna hijau tua artinya merupakan tempat berkumpulnya orang tua yang telah meninggal, dan sebelum arwah-arwah ini ditempatkan mereka melewati pintu Perekonde yang dipercaya terletak dibawah sebelum mencapai parkir ada disebelah kanan jalan.
Perekonde "pintu masuknya arwah sebelum masuk ke danau"
Perekonde “pintu masuknya arwah sebelum masuk ke danau sesuai dengan perbuatan”
Luas ketiga danau tersebut 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik, batas antar dinding danau adalah batu sempit yang mudah sekali longsor, dinding danau tersebut sangat terjal dengan kemiringan 70 derajat, ketinggian dinding berkisar 50 – 150 meter. Penemu awal danau ini adalah Lio Van Such Telen warga negara Belanda Mama Lio tahun 1915.
Keindahannya mulai diketahui luas ketika Y. Baouman melukiskan dalam tulisannya tahun 1929, sejak saat itu wisatawan asing banyak datang kesana untuk menikmati keindahan Danau Kelimutu, mereka tidak hanya datang tetapi juga melakukan penelitian kejadian alam yang fenomenal ini, hanya ada di Indonesia.
Selanjutnya setelah puas berfoto kami lanjut pulang ke Balai karena Kak Hengky akan kembali ke Ende dan kami menumpang untuk ke rumah encim Tuteh di Jl. Irian Jaya kota Ende…
Tips  menuju Danau Kelimutu :
1. Datang sekitar jam 04.00 Wita agar siap menikmati Sunrise yang kece dipuncak atau di depan balai Taman Nasional
2. Bawa jaket dan minuman hangat karena udaranya yang sangat dingin
3. Tersedia penginapan di Moni sekitar 13 Km dari Taman Nasional dengan harga terjangkau dari Rp. 150.000,- sampai Rp.350.000,- pilihan sesuai budget kamu
4. Naik ojek atau sewa mobil (Kalau ojek Rp. 15.000) dari Moni
kelanjutan cerita nanti lagi yah di part 2 Kota Ende..:D bersama rekan-rekan Flobamora community …:D

Kumpul Bareng Menikmati Hostel SubWow di Bandung

Perjalananku selalu mempertemukan dengan orang – orang hebat yang sehati dan sefrekuensi, biasa aku penyebutnya begitu. Weekend kali ini t...