Sabtu, 03 November 2018

Melihat Lebih Dekat Kampung Badud, Desa Margacinta Pangandaran


Setelah perjalanan panjang Jakarta – Pangandaran yang hampir menempuh jarak 8 jam perjalanan, akhirnya tiba di Hotel Grand Mutiara Pangandaran yang lokasinya tak jauh dari Pantai Pangandaran Sunset. Saya terkagum dengan perkembangan yang begitu pesat di Pangandaran, betapa tidak 8 tahun yang lalu saya kesini pantainya kotor dengan sampah, banyak pedagang dan kondisi jalan yang rusak parah. Namun kini Pangandaran sudah bebenah, dan tampak cantik nan mempesona untuk didatangi. 

Pak Edi, Kepala Desa Margacinta

Pak  Edi dan Chika

Berdiskusi 
Keesokan harinya selepas sarapan, saya dan rekan-rekan #Famtripwithpesona melanjutkan perjalanan menuju Kampung Badud, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Menempuh jarak waktu sekitar 30 menit dari hotel, akhirnya tiba disebuah kantor Desa Margacinta dan disambut dengan hangat oleh Bapak H. Edi Supriadi selaku Kepala Desa. Beliau langsung mempersilahkan kami semua untuk duduk di dalam ruang kerjanya sambil berbincang tentang potensi Desa Margacinta yang ditetapkan sebagai Desa Wisata.


#Famtripwithpesona

Saya dan Rinda di Jembatan Merpati Pongpet

Tak berapa lama selepas berbincang kami pun langsung diajak mengunjungi Kampung Badud. Memasuki area Kampung Badud disuguhi pemandangan area persawahan dan pepohonan kelapa yang menghijau, buah-buahan seperti manggis, dan tak kalah seru sepanjang jalan memuju desa, terhampar pohon honje atau kecombrang  dikanan kiri jalan desa. Kami pun akhirnya tiba dipinggir jembatan, duhhh liat jembatan langsung kegirangan kami semua.

Saya langsung bergegas dan menyebrang jembatan, kesan pertama langsung jatuh cinta sama jembatan. Maklum orang Jakarta jarang lihat jembatan bagus dan sungai jernih dibawahnya. Kami pun langsung disambut dengan hangat oleh warga desa dan mempersilahkan duduk. Tak berapa lama setelah sesi perkenalan kami disambut pula dengan kesenian Jingkrung dan Badud.


Ibu Nina mewakili rekan-rekan  blogger #Famtripwithpesona
Seni Badud merupakan seni tradidional yang berasal dari Kampung Badud yang secara prinsip mengunakan perpaduan alat musik  seperti dogdog dan angklung. Kelompok kesenian Badud Desa Margacinta pernah tampil di negeri Belanda. Makna dari kesenian Badud dimasa sekarang adalah untuk hiburan, atau perayaan nasional bersukaria dalam konsep pertanian. 


Anak-anak pun belajar tentang Seni

Bermain Angklung
Secara prinsipnya diperankan oleh Kakek dan Nenek, awal mulainya seni badud merupakan kesenian sakral sebagai rasa syukur atas karunia yang diperoleh oleh masyarakat desa. Makna dan filosofinya adalah adegan masyarakat yang bertani kemudian melakukan pengusiran terhadap binatang yang kerap menganggu musim tanam diiringi oleh alunan musik dogdog dan angklung. Hingga kini seni badud disesuaikan dengan perkembangan jaman seperti ada beberapa kostum binatang seperti babi hutan, monyet, harimau yang terkadang disalah satu adegan ada yang mengalami kerasukan makluk gaib seperti pertunjukan kemarin, untuk itu setiap pertunjukan selalu ada pawang yang mendampingi.


Sesaji

Nenek dan Kakek

Alat Musik Doddog

Harimau Kesurupan

Pawang mendamping yang kesurupan
Selepas pertunjukan kami lalu disajikan makan siang dengan nasi liwet,, nugget yang terbuat jantung pisang, jus honje dan singkong goreng. Desa Wisata Margacinta mempunyai banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan kedepannya untuk menarik wisatawan dalam dan luar negeri.  Salah satu ikon Kampung Badud selain seni badud, ada kerajinan tas dari pelepah gebang, jembatan merpati pongpet dan saung kolotok yang membuat kerajinan gantungan kunci dan gantungan untuk sapi.


Nasi Liwet

Nasi Liwet

Makan Siang

Pak Syarief di Saung Kolotok

Pak Junad, menjelaskan bagaimana proses membuat gantungan kunci

Gantungan Sapi

Saya, Astari, Chika, dan Rinda dengan Tas Pelepah Gebang

Jembatan merpati pongpet merupakan ikon utama menuju Kampung Badud. Konsep Desa Wisata Margacinta tidak hanya alam, tetapi juga edukasi tentang seni dan budaya yang tetap dipertahankan hingga kini. Bagi yang ingin berkunjung ke Kampung Badud, sangat mudah ditempuh baik dengan kendaraan roda dua maupun empat, fasilitas juga sudah lengkap baik area parkir, mussola, dan toilet.

Perjalanan ini atas undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia @Pesona_travel , #Famtripwithpesona #Festivalmilangkala #PesonaPangandaran #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia





6 komentar:

  1. seru banget ya, Mbak Ika. Makan bareng rame-rame begitu apalagi terus masakan desa gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget gallant, trip ini juga gak sengaja aku barengan sama Rinda jadi nambah senang banget selain menikmati desa Margacinta yang kaya seni, serta keindahan alamnya :)

      Hapus
  2. wahh asyik banget tuh bisa lihat tradisi di kampung Badud yang unik ya..
    dan itu nasi liwetnya menggoda euy.. rasanya pasti enak banget tuh buatan orang kampung ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. enak pake banget MBak Endah, masaknya pake kayu bakar pulak aku bahagia bisa makan makanan desa..

      Hapus
  3. Duh kepengen Liwet Jolem lagi. Waktu itu aku maknnya dikiit. Cuman secuil di atas daun itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks, berati gak puas dunk.. untung aku makannya nambah Kang Aip jadi gak nyesel dehhh..

      Hapus

Kumpul Bareng Menikmati Hostel SubWow di Bandung

Perjalananku selalu mempertemukan dengan orang – orang hebat yang sehati dan sefrekuensi, biasa aku penyebutnya begitu. Weekend kali ini t...