Kamis, 08 November 2018

Merasakan Sensasi Body Rafting di Cukang Taneuh, Pangandaran


Hari pertama perjalanan bersama kawan-kawan #Famtripwithpesona dilanjutkan menuju Cukang Taneuh atau Green Canyon setelah mengexplore potensi desa wisata Margacinta, Cijulang, Kabupaten Pangandaran Jawa Barat. Tak berapa lama kami pun tiba di lapangan parkir dekat lokasi pintu masuk Green Canyon, lalu menemui Kang Dede dan Kang Jony sebagai tour leader merangkap guide yang akan menemani kami menjelajah Green Canyon atau Cukang Taneuh.



Di base camp Kang Dede, kami ganti baju dan menitipkan semua barang-barang, kecuali kamera anti air atau action cam. Setelah ganti baju semua, kami lanjut menuju lokasi pintu masuk dan terbagi 2 perahu, saya bersama Rinda, chika, Astari, Kang Jony dan Kang Aip. Sementara perahu kedua ada Kang Dede, Ibu Nina, Mas Ain, Dendy dan Nana.

Menyusuri sungai menuju meeting point, pemandangan sungai yang menghijau dan pepohonan layak untuk dinikmati dan syukuri, 15 menit kemudian kami tiba di lokasi mulai melakukan body rafting. Untuk melakukan body rafting, tiap peserta sudah mengunakan helm, sepatu khusus, dan pelambung, selanjutnya kami hanya tinggal menyusuri arus sungai saja. Durasi melakukan body rafting disini adalah lebih kurang 3 jam pulang dan pergi.


Diawali doa dalam hati saya bersiap menceburkan diri, melawan rasa takut akan sungai yang pernah saya alami beberapa tahun lalu, tetap membekas. Langkah awal saya menceburkan diri dengan berpegangan tambang, lalu dibantu oleh Kang Jony yang memandu saya melewati jeram-jeram yang memang sangat dibutuhkan kehati-hatian karena banyak sekali bebatuan yang tentu bisa mencelakakan jika kurang hati-hati.

Kloter pertama satu persatu-satu mulai menceburkan diri, saya melihat ada Kang Aip, Mas Ain, Rinda dan Chika yang selalu memberi semangat, 10 menit pertama adrenalin mulai naik, kenapa begitu karena arus sungai disini lumayan deras terasa menarik.  Jeram pertama terlewati dengan mulus, selanjutnya saya akan melewati jeram kedua, muka masih tegang dan Kang Jony mengintruksikan agar saya semangat dan tidak panik. 

Satu jam perjalanan kami semua istirahat dan berfoto-foto, oh ya body rafting disini tidak selalu melalui jalur sungai, kadang kami harus melewati bebatuan pinggir sungai dengan berpegangan dinding-dinding. Saya kagum dengan Kang Jony guide kami yang sangat mahir membaca arus dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.



Menjelang lokasi finish kami harus berjalan melewati bebatuan yang tentu sangat licin, mulai mencium aroma kotoran kelelawar, dan tibalah dibagian batu besar dan lebar yang cukup untuk beristirahat. Saya, Astari dan Nana memilih tidak melanjutkan perjalanan dan menunggu kawan-kawan yang melanjutkan body rafting. Saya hanya memandangi mereka dari kejauhan, sementara saya memilih main air yang jatuh dari dinding dan bersyukur bisa melihat keindahan Cukang Taneuh atau Green Canyon ini.







Tak berapa lama kawan-kawan yang menuju finish sudah kembali, lalu kami berfoto bersama dan melanjutkan perjalanan kembali karena hari sudah mulai sore, guide kami menawarkan apakah ada perserta yang ingin meloncat dari ngarai setinggi 8-10 meter yang memang sangat terkenal di Cukang Taneuh ini, banyak orang menyebutnya “spot” batu loncat. Kami semua menjawab tidak, sehingga perjalanan dilanjutkan dengan saling berpegangan hingga garis finish dititik awal yaitu tambang.

Saya selanjutnya naik ke atas bebatuan lalu menuju perahu untuk kembali ke meeting point. Alhamdulillah perjalanan lancar, walau badan mulai mengigil kedinginan dan perut yang mulai lapar. Saya bersama Kang Aip, Rinda, Chika, Astari dan Kang Jony mulai menyusuri sungai untuk kembali, sambil memandangi hutan sekitar sungai dan sesekali melihat beberapa ekor burung yang beterbangan dan biawak yang sedang bersantai dipinggir sungai.





Cukang Taneuh atau Bahasa kerennya “Green Canyon” adalah salah satu lokasi wisata alam yang berada  di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Masyarakat lokal Pangandaran menyebutnya Cukang Taneuh yang berarti “Jembatan Tanah”  yang pertama kali ditemukan oleh wisatawan asing  asal Perancis bernama Bill Jhon pada era tahun 90 an. Saat itu Blill Jhon sedang menyusuri sungai Cijulang hingga ujung, yang kini mendapat sebutan “Green Canyon”.

Kalau menurut warga lokal sendiri Green Canyon disebut juga dengan Cukang Taneuh “Jembatan Tanah (Batu) yang menghubungkan kedua tebing sungai dan jika dilihat dari jauh menyerupai mulut gua. Jika mencoba body rafting menyusuri sungai ini akan tampak pemandangan ngarai-ngarai yang indah sekali dengan stalaktit dan stalakmit yang mempesona. Tak berapa lama kami sudah tiba di meeting point awal, lalu mengembalikan alat-alat yang kami pakai, mandi dan berganti pakaian  dilanjutkan makan bersama kawan-kawan lain untuk mengisi perut yang sedari tadi sudah mulai keroncongan.

Selepas makan kami melanjutkan perjalanan menuju hotel untuk beristirahat, karena esok hari kami akan menuju destinasi selanjutnya di Desa Santirah. Simak terus cerita di blog yahh.

Perjalanan ini adalah undangan Kementerian Pariwisata Indonesia (www.indonesia.travel). Saya dan kawan-kawan blogger akan mengeksplore beberapa tempat wisata di Kabupaten Pangandaran. Silahkan cek foto-foto kegiatan di Instagam, Twitter dan Facebook dengan hashtag #Famtripwithpesona #FestivalMilangKala #PesonaPangandaran #PesonaIndonesia dan #WonderfulIndonesia.

2 komentar:

  1. Hebatlah lho Ka Ika, walau ada trauma masih jalan terus. Tetap semangat yaaa ! Gimana kalau main di sungai lagi. Yg aman2 ajaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Kang Aip, yang selalu kasih semangat dan jagain ya Pas Body Rafting selain Akang Jony ...Insya allah tetep dicoba lagi Kang :)

      Hapus

Kumpul Bareng Menikmati Hostel SubWow di Bandung

Perjalananku selalu mempertemukan dengan orang – orang hebat yang sehati dan sefrekuensi, biasa aku penyebutnya begitu. Weekend kali ini t...