Minggu, 14 Juli 2019

Tim Es Teroossss Goes To Cilacap


Percakapan dengan Bang Juan sebelum berangkat ke Purwokerto untuk acara Juguran Blogger 2019 adalah :


Pantai Karang Bolong, Pulau Nusa Kambangan  - Cilacap

Ika                         : “Bang Juan, selepas acara Juguran Blogger 2019 extend yuk?
Bang Juan           : “iyakkk, udah pernah ke Cilacap belum?
Ika                         : “belum, eh udah denk, tapi udah lama banget Bang, tapi kalau diajakin kesana lagi mau sih”,
Bang Juan           : “siap, motoran yak”,
Ika                         : “Baiklah, biar enak ya bang jalan-jalannya alias bisa berhenti dimana aja”,
Sedikit percakapan aku dengan Bang Juan, kawan perjalananku saat itu pasca lebaran.

Senin, 01 Juli 2019 selepas check out dari Hotel Meothel Purwokerto, Aku, Cece Lenny, Bang Juan dan Lichun dengan go car menuju Pandawa Rental Motor. Kami berencana menyewa motor untuk perjalanan Cilacap.

Tak berapa lama kami tiba di Pandawa Rental Motor dan terima oleh sang Ibu pemilik rumah, bahkan kami menghabiskan beberapa kue di toples, dasar tamu tak tahu diri candaku kepada kawan-kawan hehe... 

Pandawa Rental Motor memiliki armada baru Honda Beat, harga sewa per 24 jam antara  Rp. 70.000,- s.d Rp. 100.000,- dengan syarat meninggalkan 3 identitas yang beralamat yang sama, kemarin Bang Juan mengunakan KTP, KIS dan SIM A.

Lepas memberikan 3 identitas dan membayar tunai, kunci diberikan oleh Sang Ibu, aku dibonceng oleh Bang Juan, sedangkan Cece Lenny membonceng Lichun, (aku berkata ke cece, kamu memang perempuan tangguh ce). Tujuan awal adalah ke rumah Kak Olipe untuk menitipkan beberapa barang, aku sepakat menjadikan satu ransel dengan beberapa bawaan  Bang Juan agar simple dan ringan selama perjalanan.

Berapa menit kemudian kami sudah tiba di rumah Kak Olipe  dan disambut sangat manis olehnya, menyimpan barang lalu berangkat kembali. Ada kejadian memalukan nih disini, aku lupa memakai helm ditengah perjalanan menuju SPBU untuk mengisi bahan bakar yang sudah mulai menipis menuju huruf “E”.

Ika                         :  “Bang Juan, aku lupa pakai helm balik ke rumah Kak Olipe ya Bang”,
Bang Juan           : “iyaa, tanpa banyak kata-kata”,
Bang Juan           : “ Memberi kode ke Cece Lenny, untuk menunggu di SPBU terdekat”,
Cece Lenny        : “Menganggukkan kepala”, tanda setuju.

Begitu tiba di rumah Kak Olipe helm sudah disimpankan di teras, alhamdulillah pikirku apa kabar kalau didalam rumah dan terkunci, aku bakal sangat merepotkan orang lain.

Setelah memakai helm perjalanan dilanjutkan menuju SPBU, mengisi full bahan bakar agar perjalanan lancar hingga Cilacap. Lagi-lagi kejadian terulang ketika tiba di SPBU kami tidak menemukan Cece Lenny dan Lichun yang tadi berangkat lebih dalu. Aku mengambil handphone untuk bertanya dimanakah mereka.

Ika                         : “Cece, Kamu dimana? Aku  dan Bang Juan nunggu  di SPBU jalur yang menuju Cilacap”,
Cece Lenny        : “Aku menunggu di SPBU Pahlawan”,
Bang Juan           : “Suruh ke SPBU yang menuju jalur Cilacap “,
Ika                         :  “Cece ditunggu di SPBU yang menuju Jalur Cilacap yaa”,
Cece Lenny        : “Oke”,

Jeda beberapa waktu Cece Lenny dan Lichun tiba, kami pun tertawa dengan kebodohan masing-masing dasar #teledor.


Trowongan Lama

Trowongan Baru Double Track
Perjalanan kemudian dilanjutkan, lagi-lagi kami salah jalur harusnya mengambil arah Cilacap tapi ke Banyumas, lalu putar arah kembali menuju jalur yang benar. Perjalanan sangat seru karena pemandangan indah alam sekitarnya, kami berhenti di Jembatan Merah pertama untuk berfoto, setelah itu aku meminta izin berhenti ke Bang Juan begitu melewati trowongan kereta Kebasen. Mengambil beberapa foto lalu jalan kembali.

Pukul 13.30 sudah memasuki jalur antar provinsi  Banyumas - Cilacap ada beberapa jalur dalam perbaikan dan lumayan berdebu. Aku pun memberitahu Bang Juan sudah mulai lapar, berhentilah kami di warung mie ayam untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Memesan mie ayam dan es teh diselingi canda tawa kami ke penjual yang ternyata berasal dari Jambi, sama dengan kampung halaman Cece Lenny.

Selepas mengisi perut, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Teluk Penyu. Hanya butuh lima belas menit kami sudah tiba dipintu masuk Pantai Teluk Penyu dengan membayar Rp. 30.000,- untuk empat orang lengkap dengan asuransi, jadi per orang Rp. 7.500,-. Lepas membayar kami langsung masuk ke area Pantai Teluk Penyu bertemu dengan Pak Anto pemilik kapal sewaan untuk ke Nusakambangan. Kami meyewa kapal  Rp.140.000,- PP Pantai Teluk Penyu – Pantai Nusa Kambangan lebih kurang 15 menit menyebrang.

Kami hanya punya jatah 2 jam untuk menikmati pantai, menurut Pak Anto jika sore air sudah mulai pasang, dan benar saja ombak laut Selatan memang dasyat. Begitu tiba kami memilih menyusuri pantai daripada ke benteng.

Bersantai kami

Pantai Karang Bolong Pulau Nusa Kambangan

Kapal Tongkang
Aku, Bang Juan, Cece Lenny dan Lichun menyusuri pantai disisi utara yang kala itu surut airnya hingga berhenti di Pantai Karang Bolong. Aku memilih disitu karena tidak terlalu jauh untuk kembali dititik penjemputan kapal. 2 jam tak terasa kami menikmati pantai, berfoto, melihat kapal nelayan hilir mudik, kapal tongkang dan pemandangan Gunung Slamet dikejauhan, benar-benar cantik.

Pemandangan Laut dan Gunung Slamet  
Pantai Karang Bolong di Nusa Kambangan sangat cantik serta bersih dikelilingi pepohonan khas pantai, waktu berlalu aku merasa ombak pantai semakin tinggi dan meyakinkan jika semakin sore akan pasang. Waktu sudah menunjukkan 16.54 aku mengingatkan Bang Juan untuk menurunkan drone, Cece Lenny dan Lichun untuk merapihkan pakaian dan perlengkapan kamera. 

Setelah rapi kemudian berjalan menyusuri jalan yang kita lewati tadi, namun sudah berubah air sudah pasang dan aku harus melewati jalur air setinggi dengkul karena ya memang aku pendek sih. Pelan-pelan aku berjalan sambil berpegangan karang disamping karena takut terhembas air yang sudah mulai pasang. Tak berapa lama sudah tiba dititik penjemputan kapal, Bang Juan menghubungi kapal untuk menjemput, kami pun hendak kembali kedaratan.

Begitu tiba kami lalu bertanya ke Pak Anto dimanakah ada penginapan, diberitahu disekitaran pantai dan sudah disurvei Cece Lenny. Sambil menunggu aku mulai mencari informasi, disekitaran kota atau stasiun akhirnya dapat info di sekitaran Stasiun Cilacap. Kami pun pamit ke Pak Anto untuk menuju  Hotel Pojok depan Stasiun Cilacap.

Bang Juan kemudian bertanya ke pemilik, kebetulan ada kamar kosong masing masing bisa untuk dua orang, harga per kamar Rp. 100.000,-/malam tanpa sarapan dengan fasilitas area parkir motor, tempat  tidur, kipas angin, televisi, lemari kecil, meja dan dua kursi, kamar mandi dalam  dengan wc jongkok. Kami menempati kamar dilantai dua, aku bersama Cece dan Bang Juan dengan Lichun.

Setelah bebersih atau mandi kami sepakat berkumpul pukul  19.00 menuju alun-alun untuk makan malam dan menikmati suasana malam di Cilacap. Suasana malam disekitar alun-alun sangat ramai, kami kemudian mencari parkir dan menemukan sebuah tempat makan bernama “Tenda Biru”. Kenapa aku memilih warung tenda ini, karena sangat ramai pengunjung. Benar saja, enak semua makanan yang kami pesan. Aku memesan mie goreng seafood, Bang Juan ayam kremes + nasi, Cece Lenny mie ayam dan Lichun Kwetiaw goreng beserta minum  es jeruk dan teh hangat total Rp.103.000,- untuk ber empat.

Nasi Ayam Kremes

Bakmi Ayam

Mie Goreng
Selepas membayar kemudian kami melihat ke area pasar malam, melihat wahana ontang-anting, bianglala dan ombak asmara. Suasana begitu ramai kami pun sangat menikmati malam di Cilacap ini, lepas berkeliling kami pun sepakat kembali ke hotel sudah didera rasa mengantuk. Sesampainya dihotel aku langsung bebersih dan kemudian tidur, karena esok pagi bersama Bang Juan akan berkunjung ke pasar tradisional. Selamat Malam!!

Berlanjut di Hari Kedua Menikmati  Jajanan Cilacap, dan Sungai Serayu…..












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Citarasa Kuliner Taliwang Bali di Jakarta

"Apa yang kamu ingat kalau mendengar kata Taliwang dan Bali ? Jawabnya : ada yang bilang Lombok dan Betutu..karena kita membicar...