Selasa, 16 Juli 2019

Hari Kedua Menikmati Jajanan Cilacap, dan Sungai Serayu


Lepas Subuh aku sudah bangun cece pun, kami hanya leyeh-leyeh ditempat tidur sambil menunggu pukul 06.00, aku mengambil handphone untuk memberitahu Bang Juan jika sudah bangun.

Stasiun Cilacap
Restaurant Parapatan di Cilacap

Didepan pintu masuk RM. Sien Hieng
Tak berapa lama Bang Juan mengetuk pintu dan mengajak turun. Aku bersama Cece Lenny langsung turun, mengambil helm dan pergi menuju Pasar Sangkal Putung yang lokasinya tak jauh dari hotel. Perjalanan menuju pasar ditemani semilir angin yang dingin. Cilacap ketika aku datang pagi hari mencapai  suhu 18 derajat celcius, dingin untuk wilayah pesisir dan jika siang tidak panas sekali cenderung sejuk.

Lima menit berlalu, kami pun tiba di pasar,  langsung memarkirkan motor dan masuk ke dalam pasar. Pemandangan lazim disetiap pasar ya keramaian warga yang sedang berbelanja, aku berjalan kearah lokasi jajan pasar, aku membeli getuk dan talam cukup membayar Rp.5.000,- , lalu Bang Juan membeli sate ayam lengkap dengan lontong Rp. 10.000,-, tak ketinggalan Cece Lenny membeli donat 5 dengan harga Rp.5.000,-, belum puas kami masih membeli lanting satu ikat bamboo Rp.2,500,-, dan kami minum jamu tradisional supaya sehat dengan harga Rp.10.000,-.

Lepas jajan kami kembali ke lokasi parkiran dan duduk-duduk menikmati getuk sambil melihat lalu lalang warga selesai berbelanja, sementara Cece Lenny sibuk berbincang dengan seorang anak yang yang berjualan komang-komang. Lalu kami kembali menuju hotel, Cece dan Lichun akan kembali ke Purwokerto lebih awal karena kan meneruskan perjalanan ke Semarang, sedangkan aku dan Bang Juan memilih stay lebih lama dan akan kembali sore hari.

Jam sudah menujukkan pukul 09.00 pagi, Cece berpamitan padaku untuk kembali ke Purwokerto, karena saat itu posisiku sedang mandi jadi hanya lewat pintu kamar mandi, pesan aku hanya hati-hati diperjalanan. Selepas mandi dan beberes ransel aku mengetuk kamar Bang Juan untuk memberikan ransel dan berpesan akan jalan kembali jam berapa.

Ika                         : “Bang Juan, akan jalan jam berapakah?”,
Bang Juan          : “Sekitaran jam 11 yak, ntar sekalian makan siang baru balik ke Purwokerto”,
Ika                       : “Siap, aku sudah beberes semua barang yaa tinggal Bang Juan masukin baju-baju ke Ransel”,

Sambil menunggu jam 11.00 aku leyeh-leyeh ditempat tidur sambil menonton televisi, hampir saja ketiduran hahaha :D, menjelang Dzuhur aku ajak Bang Juan untuk check out, tapi sebelumnya aku meminta izin untuk melihat-lihat Stasiun Cilacap yang memang persis lokasinya didepan hotel. Kami berfoto bergantian di stasiun ini, kemudian menuju hotel mengambil ransel dan pamit untuk check out.

Motor melaju dengan santai sambil melihat-lihat, sambil kami berpikir akan makan apa siaang ini, tentu aku sambil mencari narasumber makanan khas Cilacap via google. Dapatlah tahu masak, namun info yang kami dapat  tahu masak tersebut bukannya sore hari. Hingga kami berputar-putar dahulu melewati alun-alun, kemudian memarkirkan motor disebuah Klenteng dan meminta izin apakah boleh memotret.

Bang Juan          : “Ibu, apakah boleh memoret?”,
Ibu                         :”Boleh, hanya diluar saja”,
Bang Juan          : “Baik , Bu”,

Setelah memoret kami pun berjalan-jalan disekitarnya dan tak segan aku meminta tolong Bang Juan untuk memoret ku didepan sebuah Rumah Makan Parapatan “Sien Hieng”, nampak legend rumah makan tersebut. Aku sempet berbisik ke Bang Juan.

Ika                         : “Bang Juan, makanan disini yuk?, tapi aku tanya dulu apakah halal”,
Bang Juan          : “iya”,
Tak berapa lama ada mbak berhijab keluar pintu yang ternyata pekerja disana. Lalu Bang Juan bertanya",
Bang Juan          : “Mbak, apakah rumah makan ini halal?”,
Mbak RM            : “Campur Mas”,
Ika                         : “Ndak usah ya Bang”,
Bang Juan + Ika : “Kami mengucapkan terima kasih ke Mbak tersebut”,

Selepas itu kami beranjak menuju Klenteng untuk mengambil motor dan mencari tahu masak, dapatlah tak jauh dari Pasar Gede, kami melihat gerobak bertuliskan “Tahu Masak Bu Yati”, kami lalu berputar arah menuju gerobak tersebut sambil melihat es dawet yang lokasinya tak jauh, memarkir motor lalu aku memesan satu porsi tahu masak untuk di makan berdua Bang Juan, kenapa cuma satu pesannya?, karena masih ada makanan lain yang akan kami coba.



Es Dawet

Tahu Masak

Penampakan Tahu Masak, hmmmm Yummy..

Lotek  terdiri dari bayam, kecambah, pepaya serut muda

Lotek lengkap dengan bumbu kacang dan mendoan
Mencicipi tahu masak yang enak, sambil bertanya bumbu-bumbu ke Bu Yati, tahu masak terdiri dari tahu yang goreng, lalu bumbu bawang putih, cabe, sedikit kacang tanah diulek hingga halus serta diberi air dan sedikit perasan jeruk nipis, kemudian tahu  dipotong-potong lalu diletakan dipiring diberi kecambah dan kubis yang telah diiris, bawang goreng dan kemudian kerupuk plus satu tempe mendoan, Selamat Menikmati!. Cukup kenyang makan tahu masak dan es dawet, lalu membayar ke Bu Yati seporsi tahu masak dan mendoan Rp.10.500,- /porsi untuk es dawet harga Rp.5.000,-/gelas, lalu berpamitan ke Bu Yati dan mendapat pesan untuk selalu berhati-hati dijalan. Terima kasih bu.


Lutis = Rujak Buah

Es Podeng Pak Somat

Penampakan Lutis
Kami masih saja berkeliling Cilacap untuk mencari jajanan selanjutnya, yang sedari kami lewat rame terus tepatnya tak jauh didepan sebuah apotik dan Bank BCA ada es podeng dan lutis yang pembelinya saja mengantri. Kami langsung berhenti, Bang Juan membeli es podeng aku memesan lutis. Aku harus menunggu lumayan lama karena mengantri begitu juga dengan Bang Juan. Lutis satu porsi Rp.10.000,- segar cocok dimakan saat panas dengan buah-buah segar seperti papaya, semangka, nangka, timun, bangkoang, untuk es podeng Pak Somat ini terbaik sepanjang masa aku makan ini, karena enak, esnya lembut, santannya meresap kedalam es serta menyatu dengan roti, alpukat dan susu coklat, kamu harus coba kalau mampir di Cilacap. Beristirahat sambil jajan sebelum lenjutkan perjalanan menuju Purwokerto.

Jam sudah menunjukkan pukul 13.00, kami pun menyudahi makan lutis dan berkemas menuju Purwokerto. Perjalanan butuh waktu satu jam akhirnya kami tiba di Rawalo, Banyumas melihat sebuah sungai dengan jembatan yang indah, aku minta Bang Juan untuk istirahat di warung makan sambil menunggu kereta lewat.


Sungai Serayu

Sungai Serayu

Sungai Serayu

Kereta Api dan Jembatan
Turun dari motor, memesan sepiring pecel dan dua teh manis lalu menitipkan tas. Aku dan Bang Juan akan bersantai di tepi sungai sambil berfoto, menunggu kereta lewat serta menerbangkan drone. Bahagia rasanya begitu kereta lewat aku ambil kamera dan membidiknya. Siang itu suasana sudah mulai sore, udara sangat sejuk untuk duduk berlama-lama, melihat persawahan menghijau,  menikmati terpaan angin dan sungai Serayu yang tenang tapi menghanyutkan.

Kalau saja Bang Juan kala itu tidak menyampaikan suatu pesan kepadaku, mungkin aku belum ingin beranjak dari sana.

Bang Juan          :” Mbak, airnya tenang yak?”,
Ika                         : “Iya Bang, sejuk sama terpaan anginnya”,
Bang Juan          : “Aku parno sama sungai yang tenang, tetiba muncul buaya”,
Ika                         : “tanpa menjawab aku langsung bangun bergegas mengambil tas dan kembali ke warung tempat aku menitip tas",



Pemandangan Sekitar Sungai Serayu

Persawahan

Bang Juan menerbangkan drone
Setelah berkemas, membayar jajan lalu berpamitan ke pemilik warung, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah Kak Olipe. Sampai Jumpa Cilacap!!,





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dunia Kartun : Wahana Baru Dunia Fantasi

Weekend kemarin aku bersama-sama kawan blogger datang ke acara #Bloggerday Dufan 2019. Acaranya seru banget karena akan mencoba waha...