Sabtu, 23 Februari 2019

Menatap Masa Lalu, dan Kini Lasem


Jatuh cinta pada pandangan pertama itu yang saya  rasakan pada Lasem, entah dari masa kanak-kanak saya suka sekali dengan bangunan tua, kuburan tua yang bernuansa vintage dan heritage. Lasem kerap disebut The Little Beijing Old Town, sebab kota ini mengingatkan saya pada negara tirai bambu. Tepatnya Oktober tahun lalu, saya melakukan perjalanan bersama 4 orang kawan dari Jakarta, kami road trip dengan mobil menuju Lasem. Kamis dinihari tepat pukul 04.00 wib, saya sudah menunggu Mas Danu, Kak Jane dan Tides di lobby apartment yang dipilih sebagai meeting point.





Tak berapa lama kami berempat berangkat memasuki tol lingkar luar Jakarta menuju lokasi penjemputan Mas Bram, saya mengambil gawai untuk memberi kabar Mas Bram bahwa sudah berangkat, namun tidak ada jawaban dan kami berpikir Mas Bram pasti tertidur kembali. Akhirnya kami menjemput Mas Bram di rumahnya, benar saja perkiraan kami. Sambil menunggu, kami sarapan nasi uduk yang ada di depan rumah, dan melanjutkan perjalanan kembali.

Road trip berjalanan lancar, tepat jam 08.30 kami sudah keluar tol Brebes Timur semua masih istirahat kecuali saya dan Kak Jane. Setiap diperjalanan saya jarang sekali tidur, senang melihat keadaan sekitar. Singkat cerita tepat Jam 13.00, kami sudah tiba di Semarang dan memutuskan untuk istirahat, makan siang dan sholat. Restoran Lombok Ijo yang kami pilih untuk makan, sambil menunggu Mas Deta yang akan ikut ke Lasem. Jadi, nanti perjalanan kami berenam.




Selepas makan kami melanjutkan perjalanan menuju Lasem, alhamdulillah perjalanan lancar, namun terjebak macet selama 2 jam di Demak yang sedang pembangunan jembatan. Melewati Kudus, Pati dan akhirnya lepas Maghrib kami sudah memasuki Kota Rembang. Kami pun langsung mencari lokasi hotel yang sudah dibook, yaitu Hotel Antika. Saya pun langsung check in dan memasuki kamar, karena badan terasa lelah dan butuh mandi. Kami akan kumpul lagi tepat jam 20.00 untuk makan malam.




Kabupaten Rembang memang kota kecil, terletak di jalur utara menuju Tuban hingga Surabaya, Setelah beres mandi, kami sudah lengkap berkumpul di lobby dan foto-foto kemudian makan malam, ternyata restoran samping hotel sudah habis dan tutup. Kami pun akhirnya makan bakmi godog didepan hotel sambil minum kopi diselingi canda tawa. Selepas makan kami beristirahat, karena esok akan mulai berkeliling dan berjumpa dengan Mbak Agni yang sedang ada penelitian di Lasem.




Tepat jam 05.00 saya sudah bangun untuk mandi dan sholat Subuh, selepas itu membangunkan Tides untuk mandi dan sarapan bersama. Tak berapa lama, gawai berdering terkirim whatssap dari Kak Jane bahwa sudah menunggu di tempat sarapan, saya pun kemudian menyusul. Setelah semua sarapan, kami akan menuju Lasem yang berjarak kurang lebih 10 Km dari Rembang. Tujuan kami adalah ke Karangturi untuk berjumpa dengan Mbak Agni.

Saya mengirim pesan ke Mbak Agni, untuk menanyakan posisi. Ternyata beliau sedang ada di kedai kopi Jeng Hai yang menurut saya kopi dan ketan srundengnya juara banget loh. Saya memperkeanlkan Mbak Agni ke kawan-kawan lainnya. Mbak Agni memberi saya kontak Opa Gandor, yang merupakan narasumber Klenteng Cu An Kiong dan Rumah Candu. Kemudian saya menelpon Opa dan meminta izin apakah boleh berkunjung, Opa mengizinkan dan saya diminta menunggu di kedai kemudian nanti sama-sama menuju klenteng.





Klenteng Cu An Kiong yang berarti “Kententraman welas kasih”, merupakan klenteng tertua di Lasem. Klenteng ini dibangun sekitar abad ke 16, ketika orang-orang Tionghoa datang dan mendarat di sungai Babagan, Lasem pada abad ke 15. Material yang digunakan untuk membangun klenteng adalah kayu jati yang saat itu kawasan Lasem banyak tumbuh pohon jati. Tak ada yang berubah dari bangunan klenteng semua masih sesuai dengan aslinya menurut Opa Gandor.





Beranjak dari klenteng Cu An Kiong, kami menuju Rumah Candu yang letaknya tidak jauh. Tiba di rumah dengan pintu berwarna kuning ini punya sensasi yang berbeda, saya dan kawan-kawan kemudian mendengarkan cerita dari Opa Gandor. Lawang Ombo atau rumah candu dibangun sekitar 1860-an untuk dijadikan tempat tinggal. Pemiliknya adalah orang Tiongkok bernama Liem Kok Sing yang merupakan saudagar sukses di Lasem.

Lawang Ombo berada di desa Dasun, Kecamatan Lasem dan terletak tak jauh dari sungai Babagan. Pada masa lalu, candu adalah salah satu komoditas dagangan yang dinikmati selain rempah-rempah. Disalah satu sudut bangunan Lawang Ombo terdapat sumur berdiameter 70 sentimeter didalamnya terdapat genangan air yang merupakan jalur utama penyelendupan.






Lepas berkeliling Lawang Ombo, kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah tegel diantar oleh Opa Gandor. Lasem bagi saya dan kawan-kawan merupakan gambaran masa lalu yang memiliki makna mendalam di masa kini. Pejalananan saya dan kawan-kawan menjelajah Lasem akan berlanjut dipart berikutnya. 

   






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kampanye Global 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Bertempat di Pusat Kebudayaan Amerika, Pacific Place, Jakarta, 27 November 2018 saya menghadiri peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Pe...