Rabu, 31 Mei 2017

#TimeTravel Perjalanan Sebagai Titik Balik Kehidupan

Berawal dari masa kecil, sekitar tahun 1992 ketika Bapak memutuskan memindahkan sekolah saya dari Bogor ke Jakarta. Tidak tinggal dengan orang tua kandung melatih mandiri diusia dini, iyaa tinggal di rumah Pakde tentu beda aturan dengan orang tua sendiri. Ada aturan-aturan yang harus saya jalanani dari bangun tidur, mandi, berangkat sekolah, pulang sekolah harus melakukan apa saja, seperti mengerjakan PR, sore hari mengaji dan selepas mengaji. Saya rajin membaca koran-koran langganan Pakde, ada Kompas dan sore hari Suara Pembaruan serta setiap minggu ada majalah Intisari, majalahnya kecil seperti buku komik, namun dari majalah itulah kemudian terinspirasi dari tokoh Harris Otto Kamil Tanzil atau biasa disingkat “H.O.K Tanzil”.
Keindahan Maurole
Membaca perjalanan-perjalanan H.O.K Tanzil dimasa itu, membuat saya berimajinasi suatu waktu bisa menjelajah seperti kisah yang saya baca. Hingga bercita - cita kelak sudah besar ingin mengikuti jejaknya. Tidak dipungkiri kehidupan sekarang pun tak luput peran Bapak saya sendiri yang selalu menginspirasi, beliau sering mengajak jalan-jalan dengan motor trailnya, jika libur diakhir pekan seperti ke Cibodas atau melihat kebun-kebun teh di Cipanas. Tidak hanya di Bogor, jika pulang ke Nganjuk mengunjungi Mbah. Bapak juga selalu mengajak jalan-jalan denganM mengendarai motor ke air terjun Sedudo atau mengunjungi sanak keluarga yang tinggal di wilayah lain seperti Trenggalek, Blitar, Malang, Kediri dan tempat lainnya.
Balik lagi ke perjalanan sebelumnya, tinggal di kawasan pegunungan membuat hidup terbiasa sederhana, karena untuk menuju sekolah saja harus berjalan kaki lebih kurang 4 Km setiap harinya, kadang Bapak menjemput dengan motor trailnya maklum jalanan dari rumah menuju sekolah tidaklah bagus melewati jalur bebatuan dan sungai. Hingga akhirnya Bapak memutuskan untuk menitipkan saya di rumah Pakde untuk bersekolah di SD Khatolik Santa Maria Immaculata. Tidak hidup dengan orang tua sendiri awalnya membuat saya sedih karena jauh dari kedua orang tua, awalnya suka nangis, tapi ini adalah titik proses perjalanan yang harus saya jalani, kalau nasehat Bapak lewat telepon adalah kamu harus dapat pendidikan yang baik agar cita-cita kamu bisa berkeliling Indonesia dan Dunia tercapai. Kalimat itu yang selalu teringat dari Bapak.
Nasehat dan support kedua orang tualah yang bisa membentuk saya dimasa sekarang, dimana saya selalu mendapat izin untuk naik gunung, bepergian solotraveling kemanapun. Hingga perjalanan suatu hari tanpa rencana bersama Pras menuju Bali dengan tiket promo sebuah maskapai, lalu berlanjut ke Labuan Bajo. Saya dan Pras terbiasa melakukan perjalanan tanpa itinerary semua mengalir bak air, berawal dari duduk-duduk di dermaga Labuan Bajo sambil mencari informasi kapal berlabuh, hingga mendapat tumpangan kapal pengangkut kebutuhan pokok KM. Nuansa Abadi R. 20 dari Calabai tujuan akhir Maumere hampir 27 Jam melewati Reo – Maurole – Palue – Maumere, membuat perjalanan sangat menyenangkan, berkumpul dengan sesama penumpang dari berbagai tempat mengajarkan saya akan makna kearifan lokal, menghargai perbedaan serta bersikap ramah ke siapapun.Di atas KM. Nuansa Abadi saya dan Pras berbincang dengan warga lokal, aktivitas yang kita lakukan melihat video-video karya rekan sesama pejalan lalu melihat bersama-sama foto karya Pras diperjalanan sebelumnya. Jarak tempuh dari dari Labuan Bajo menuju Maumere memang memakan waktu yang panjang namun saya dan Pras tidak mengalami rasa bosan, sambil memasak, membaca buku hingga kapal singgah para penumpang dipersilahkan untuk turun sekedar membeli makanan dan bisa explore tempat sekitar. Ada hal yang saya baru ketahui ketika menginjakkan kaki di Pelabuhan Reo. Pelabuhan ini merupakan salah satu pelabuhan penting untuk melayani masyarakat sekitar namun beberapa wilayah lainnya juga seperti Ruteng, Borong Manggarai Timur.


Hingga setelah melewati Reo perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Palue, butuh waktu sekitar lebih kurang 10 jam perjalanan untuk tiba di pulau cantik ini. Pulau cantik yang belum lama terkena musibah meletusnya Gunung Rokatenda ini tetap memiliki keindahan tersendiri pasca letusan. Gunung yang timbul dari permukaan dasar laut Flores ini memiliki ketinggian 875 mdpl. Pulau Palue dalam bahasa lokal berarti "Mari Pulang".




Perjalanan demi perjalanan membuat saya ingin memperluas langkah dan wawasan dengan mendatangi berbagai tempat ditanah air bahkan luar negeri. Banyak hal yang saya dapati, untuk melangkah lebih jauh lagi. Perjalanan yang menjadi impian dimasa mendatang bagi saya adalah menjelajahi tanah Papua, dan kenapa saya harus kesana??, karena saya ingin sekali belajar tentang keanekaragaman suku, bahasa, kebudayaan, karya seni, sejarah dan terpenting ingin berbagi serta turun tangan langsung membantu adik-adik di Papua untuk belajar bersama sebagai wujud menunaikan janji kemerdekaan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Perjalanan yang saya lalui ini, sebagai titik balik kehidupan untuk berbagi kepada sesama, menghargai dan mensyukuri karunia Allah SWT. 


2 komentar:

  1. Ah ceritanya dari calabai naik kapal bikin merinding kak, apalagi kalo udah lewatin daerah sangiang biasanya gelombangnya lumayan serem

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe..lumayan gelombangnya apalagi ini kapal kecil langsung kena air :)

      Hapus

Press Conference Festival Pesona Lokal Adira Finance

Selasa, 07 Agustus 2018 saya menghadiri undangan Press Conference Festival Pesona Lokal persembahan Adira Finance bertempat di Ballroom l...