Rabu, 09 September 2015

Rumput Laut Desa Tablolong yang mendunia…

Tak ada yang tahu dibalik keindahan Pantai Tablolong ternyata ada budidaya pertanian rumput laut kualitas ekspor terletak di Desa Tablolong kecamatan Kupang Barat Nusa Tenggara Timur, berjarak sekitar tiga puluh kilometer dari Kupang.



Padahal dini hari tadi sekitar pukul satu waktu Indonesia tengah aku baru saja tiba di Pelabuhan Bolok dari Ende, setelah delapan belas jam melakukan perjalanan laut dengan KM Awu. Walau begitu tidak membuatku menolak ajakan Kak Inda untuk mengajakku ke Pantai Tablolong bersama Pras dan Ayank (adik Kak Inda). Kami berempat melakukan perjalanan ke Pantai Tablolong, wah indah banget pikirku permandangan disini, terlihat juga anak-anak SD berangkat menuju sekolah, aku sapa mereka dengan lambaian tangan dari jendela mobil.
Sepanjang perjalanan selama satu jam menuju pantai indah ini dihiasi santigi (pempis acidula) tumbuhan perdu yang banyak diburu orang karena keunikannya. Santigi tumbuh liar di beberapa bagian pantai. Namun, sejak beberapa tahun terakhir tanaman ini diambil secara diam-diam oleh warga asal luar Nusa Tenggara Timur sehingga kini populasinya sudah berkurang. Akhirnya kami tiba di pantai tablolong, wah pantai berpasir putih, berair jernih dan langit biru sebagai bonus perjalananku di Kupang. Liburan di weekday  memang asik tidak banyak yang kunjung dibandingkan hari libur hehehe …:D aku sempatkan berfoto dan bermain air sejenak lalu melanjutkan ke desa tablolong  sebagai penghasil rumput laut yang jaraknya tak jauh dari sini.
Ayank memakirkan mobil lalu kami berjalan menuju pantai untuk melihat petani yang sedang memanen rumput laut, aku berkenalan dengan Pak Frans, Mama Lusi dan anaknya Odie yang sedang mengangkut rumput laut dari pinggir pantai untuk dijemur. Aku izin membantu mama Lusi dengan mengangkat rumput laut itu bolak-balik. Karena sudah mulai cape aku izin beristirahat dan berteduh karena memang disini sangatlah panas. Mama Lusi mengambil air minum untuk kami berempat. Aku banyak bertanya kepada Pak Frans tentang budi daya rumput laut disini yang beliau katakan di ekspor ke Eropa, Amerika dan Jepang.




Tanaman rumput laut tergolong tanaman berderajat rendah, umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu, tidak mempunyai akar, batang maupun daun sejati, tetapi hanya menyerupai batang yang disebut thallus. Rumput laut tumbuh di alam dengan melekatkan dirinya pada karang, lumpur, pasir, batu dan benda keras lainnya (Anggadiredja dkk, 2006).
Terdapat Jenis-jenis rumput laut yang bernilai ekonomis penting dan sudah sejak dulu diperdagangkan yaitu Eucheuma sp, Hypnea sp, Gigartina sp, Chondrus sp sebagai penghasil karaginan, Gracilaria sp, dan Gelidium sp sebagai penghasil agar-agar serta Sargasum sp, Turbinaria sp sebagai penghasil alginat (Anggadiredja dkk, 2006).
Komoditi rumput laut  ini sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat lokal di Nusa Tenggara Timur, salah satu jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat Tablolong adalah Eucheuma cotonii (Kappaphycus alvarezii) jenis ini banyak dibudidayakan karena teknologinya mudah, harga relatif murah serta metode pasca panen tidak terlalu sulit. Selain sebagai bahan industri rumput laut jenis ini juga dapat diolah menjadi bahan makanan yang dapat dikonsumsi secara langsung baik dalam keadaan mentah ataupun dimasak sebagai sayur.
Cara awal membudidayakan rumput laut dengan berat awal seratus gram diikat dengan tali rafia untuk selanjutnya diikat pada tali nylon sebagai tali utama. Panjang tali utama adalah enam puluh meter yang terbagi menjadi lima tali terdiri masing-masing dua belas meter, jarak antar bibit empat puluh centimeter. Jarak antara tali adalah satu meter, Jumlah bibit yang ditebar pada masing-masing tali tiga puluh rumpun atau ikat. Kedua ujung tali utama diikat masing-masing dengan seutas tali yang dihubungkan dengan pemberat. Dibiarkan selama dua bulan atau delapan minggu. Tidak hanya ditanam dan ditunggu selama itu tetapi juga dilakukan pengawasan satu sampai dua hari sekali.
Proses panen pun menurut Pak Frans bila rumput laut telah mempunya berat sekitar empat kali dari berat awal atau setelah masa tanam satu setengah sampai dua bulan,  cepat atau tidaknya panen tergantung metode dan perawatan yang dilakukan setelah bibit ditanam. Pengawetan rumput laut setelah masa panen diangkat mengunakan sampan, lalu diangkat mengunakan keranjang, di jemur sampai kering di “para-para” yang terbuat dari bambu dan tidak boleh di tumpuk. Penjemuran hanya membutuhkan tiga hari, agar hasilnya berkualitas tinggi, rumput laut yang kering ditandai dengan telah keluarnya garam. Setelah kering rumput laut akan menyusut sepuluh kali lipatnya, sementara warna rumput laut akan berubah dari hijau menjadi coklat karena serapan sinar matahari mengurangi pigmen warna. Selain itu pengeringan juga  mengurangi resiko pembusukan akibat bakteri dan jamur, sehingga menghasilkan kualitas rumput laut yang memiliki mutu tinggi untuk dapat di ekspor ke luar negeri. Karena rumput laut desa tablolong sudah ada pelanggan tetap dari berbagai Negara.
Mengakhiri perbincangan dengan Pak Frans dan keluarga, aku meminta izin untuk kembali ke Kupang. Karena flight sore sudah menunggu untuk kembali ke Surabaya. Aku dan rekan-rekan pamit dan mengucapkan terima kasih ke beliau. Sebelum kembali aku sempatkan berfoto dan bermain bersama anak-anak nelayan yang malu-malu untuk diajak berfoto.



Di akhir perjalanan menuju Kupang sempat terpikirkan, tentang usaha pengolahan rumput laut ini. Sangat disayangkan pengelolaan rumput laut yang  sederhana oleh masyarakat tablolong ini masih kurang mendapatkan perhatian oleh pihak terkait. Padahal permintaan pasar begitu pesat dari Negara-negara luar. Namun perjuangan mereka menikmati hidup  tanpa putus semangat sedikit pun patut di acungi jempol.

Tips Ke Pantai Tablolong :

1.      Transportasi menuju Kupang banyak sekali baik dari Jakarta, Surabaya maupun Denpasar tersedia berbagai maskapai dari Garuda Indonesia, Lion, Sriwijaya, Citilink

2.      Bila datang dari bandara El Tari rekan - rekan dapat menggunakan jasa angkutan umum menuju terminal Tabun dengan biaya Rp. 2500.- / orang lalu disambung angkot menuju Pantai Tablolong dengan biaya Rp. 2000,- / orang, menyewa motor Rp. 75.000,- / hari atau rental mobil kisaran Rp. 300.000,- / hari dan membutuhkan jarak tempuh tiga puluh kilometer selama satu jam dari pusat kota Kupang

3.      Penginapan di Pantai Tablolong berupa homestay Rp. 125.000,-/ malam dan dapat sarapan.





2 komentar:

Travel Blogger Gathering Bersama Adira Finance

Adira Finance merupakan perusahaan besar multifinance yang berdiri sejak tahun 1990, yang semula dikembangkan sebagai perusahaan pembiayaa...